Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 33

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 33. Kunal terpesona melihat kecantikan nandini. Dia menyalakan baterai hp agar Nandini tidak ketakutan. Kunal meyakinkan nandini kalau tidak akan terjadi apa-apa padanya dan lift akan segera beroperasi lagi. Kunal menggenggam erat tangan nandini. Perlahan nandini merasa tenang dan berani membuka matanya.

Tak lama kemudian, Lift kembali beroperasi. Semua orang bergegas keluar. Nandini ikut keluar. Kunal menahannya, "tapi ini bukan lantai yang kita tuju.." Nandini berkata kalau dia tdiak mau naik lift lagi, dia akan lewat tangga saja. Kunal tak bisa berbuat apa-apa. Nandini segera berlari keluar. Di depan Lift, seorang wanita tua yang melihat itu menenangkan Nadnini memintanya agar tidak panik karena dia mempunyai suami yang sangat perhatian dan mencintainya. Kunal dan nandini saling tatap. Nandini memberitahu wanita itu kalau mereka hanya berteman, bukan pasangan. Wanita itu minta maaf karena salah paham.


Kunal dan Nandini sampai di kantor Mauli. Mauli berdiri menunggu sambil menatap hpnya. Nandini menyapaMauli. Mauli menyambut Nandini dengan cemas, "kemana saja kalian berdua? Aku cemas. AKu telpon erkali-kalitidak tersambung." Nandini memberitahu Maulu tentang Lift yang terhendi di tengah jalan dan betapa dia ketakutan dan sesak nafas. Mauli melihat wajah pucat nandini dengan cemas, "kau pastu sangat ketakutan. Ayo duduk sini..." Mauli menarik kursi dan menyuruh nandini duduk. Mauli menyodorkan gelas berisi air kearah nandini dan menyuruhnya minum agar tenang. Kunal melihat perhatian Mauli pada nandini dengan wajah sedih. Mauli mengambil air dalam botol dan hendak memberikannya pada Kunal, tapi kunal sudah tidak ada. Mauli terlihat cemas.

Di luat, Kunal terlihat sangat terganggu dengan perasaannya sendiri terhadap nandini. Dia mengeluh kesal karena merasa terjebak dalam masalah yang dia sendiri tidak pahami. Dengan kesal Kunal memukul dinding. Seorang perawat menyapanya, "apakah Anda baik-baik saja, dokter?" Kunal menatap perawat itu dan menyahut kalau dirinya baik-baik saja. Kunal meminta secangkir teh pada perawat itu. Si perawat segera peri untuk mengambil teh.

Baca Juga: 
Malamnya, sambil menyiapkan tempat tidur, mauli memberitahu Kunal kondisi Nandini yang sudah mulai membaik. Mauli merasa takjub dengan perkembangan kesehatan nandini dan yakin tak lama lagi Nandini pasti akan sembuh total. Kunal ikut senang, "bagus sekali. Jadi kita bisa membuat rencana untuk kedepannya." Mauli menatap punggung Kunal tak mengerti. Dalam hati Kunal bertekad untuk membuat keputusan yang tepat sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Apapun yang terjadi, Kunal tidak ingin berpisah dengan Mauli.

Mauli bertanya dengan heran, "rencana apa?" Kunal menyahut, "rencana untuk mencarikan sebuah rumah untuk Nandini. Maksudku, dia tidak akan merasa percaya diri sampai dia bisa belajar hidup mandiri.." Mauli setujum, "tapi Kunal, kenapa terburu-buru? Pada akhirnya kita akan melakukan itu juga. tapi bukan sekaranh.." Kunal berkata kalau mereka harus memikirkan itu cepat atau lambat, "dia tidak mungkin tinggal di sini seumur hidup.."

Baca juga: 

Nandini yang datang membawakan teh tertegun mendengar percakapan mauli dan Kunal. Dia termangu di luar mendengarkan perdebatan Mauli dan Kunal. Mauli setuju dengan pemikiran Kunal. Kunal memberitahu Mauli kalau dirinya juga perduli dengan nandini tapi Kunal memikirkan kebaikan nandini, "ketergantungannya pada kita untuk segala hal tidak baik untuk Nandini sendiri.." Kunal menyakinkan Mauli kalau mereka tidak melepas nandini, mereka akan terus mengawasinya dan memdukungnya dengan segala cara, "tapi dia harus berjuang untuk dirinya sendiri untuk membangkitkan rasa percaya dirinya." Mauli berkat akalau Nandini bisa mendapatkan semua itu dengan tinggal bersama mereka, "dirumah ini. Dia tidak perlu meninggalkan rumah ini. Sekaranhg katakan padaku, bagaimana kita akan menemukan rumah baru di Mumbai sekarang ini? Akan ada banyaak pengeluaran. Uang sewa, listrik, pembantu, belanjaan. Nandini tidak akan sanggup memenuhi semua itu. Kita juga tidak sanggup."

Kunal menyela, "kalau kau berpikir begitu maka itu tidak akan mungkin terjadi. Dia harus memulai semua itu suatu hari nanti. Dan nandini bukan anak kecil. Dia akan membuat kesepakatan dengan segala hal begitu dia mempunyai tanggungjawab." Mauli mengerti maksud Kunal, "tapi dia baru saja memulai hidup seorang diri. Dia butuh sedikit waktu lagi." nandini mendengar semua perdebatan itu dan merasa tidak enak.

Mauli menarik tangan Kunal dan mengajaknya duduk ditepi tempat tidur, "lihat, aku tahu kau mengatakan itu demi kebaikan nandini. Tapi coba pikirkan, apakah dia siap untuk semua ini?" Kunal bertanya, "apakah kau tidak merasa membuatnya semakin lemah dengan menampungnya di sini? Kau membuatnay lemah dan membuatku tak berdaya. Aku harus memikirkan dia sebelum merencanakan sesuatu. Kita tidak bisa keluar tanpa dia. Ini tidak benar, Mauli. Untuk dia dan untuk Kita." Mata nandini berkaca-kaca mendengar semua ucapan Kunal.

kunal menatap Mauli penuh harap dan menggenggam tanganya, "Mauli, tolong mengeri aku. Aku merindukanmu. Aku sangat ingin menghabiskan waktu bersamamu. AKu mencintaimu..." mauli binggung mendengar permohonan Kunal. Dia tak tahu harus bagaimana. Satu sisi Kunal adalah suaminya dan disisi lain nandini adalah sahabatnya. Nandini sendiri memahami apa yang sudah terjadi, "tanpa sadar aku telah mengambil kesempatan terhadapkebaikan mauli dan Kunal. Aku tidak boleh terus tinggal di sini. Aku harus segera membuat keputusan."

Keesokan paginya, Mauli terlihat bingung dan tidak bersemangat. Dia mneyuruh Pramila belanja sayuran yang sama tiga kali hingga di protes Pramila. Akhirnya mauli menyuruh Pramila belanja apa saja sesukanya. Nandini mengamati Mauli dari jauh dan mengerti apa yang berkecamuk dihati sahabatnya. Nandini menyapaa Mauli dan duduk didepannya. mauli menyambut kedatangan nandini dengan gembira.

Nandini berkat akalau dirinya ingin bicara dengan Mauli. Nandini bertanya apakah Mauli ingat dengan tetangga mereka di kampung dulu, "paman Sharma?" Mauli ingat. Nandini memberitahu nandini kalau paman Sharma punya sebuah mobil. Mauli berkata kalau dia tdiak pernah melihat paman Sharma menyetir mobil. Nandini menjelaskan itu karena dia takut menyetir sendiri, "dia punya Sim, tapi kemana-manan dia jalan kaki atau menyuruh orang lain menjadi sopirnya. Dia tidak percaya diri untuk membawa mobil sendiri." Mauli berkata kalau paman Sharma  itu pengecut, "orang-orang pengecut seperti dia sangat menyedihkan."

Nandini tertegun, "menyedihkan?"  Mauli tidak mendengarnya. Nandini menyembunyikan perasaanya dengan berdiri membelakangi Mauli. Mauli bertanya, "tapi kenapa kau teringat dia pagi-pagi begini?" Dengan ragu nandini memberitahu Mauli kalau dirinya mulai merasa seperti paman Sharma. Mauli tidak mengerti, "apa maksudmu?" Nandini menyahut, "maksudku, aku memutuskan untuk hidup bebas tapi tidak memberi makna pada kebebasan itu. AKu selalu merepotkan kalian. jadi ku pikir... aku harus pergi dari sini dan hidup mandiri.."

Popular Posts

Loading...
Loading...