Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Bukan Cinta Buta

Fitnah itu kejam, Jendral!!

"Kalian harus di hukum mati! Tidak ada tempat untuk orang-orang seperti kalian di sini! Kalian mengotori kesucian kampung ini! Kalian yang berbuat maksiat, kami yang akan menangung azab!"

Aku baru menyelesaikan salam kedua ketika suara hiruk pikuk di luar sana terdengar. Aku berlari  ke ruang tamu tanpa melepas mukenah yang kupakai. Dewi mengintip dari pinggir jendela dengan wajah pucat. Temanku itu terlihat gugup sekali. Aku menghampirinya dengan rasa ingin tahu, "ada apa Dew?"

Dewi menghampiriku dengan terbata-bata, "mereka.... mereka....."

Aku melangkah ke tengah jendela. Orang-orang di luar berteriak kencang menyuruh aku keluar. Aku membuka pintu dengan masih memakai mukenah dan melangkah kehadapan mereka. Kami berhadapan, tapi terpisah oleh pagar. 

Aku menyapa mereka, "Assalamualaikum, bapak-bapak...." Mereka menjawab salamku dengan ketus dan terpaksa. Aku menatap mereka satu persatu. Tak ada satupun dari kerumunan itu yang aku kenal baik. Dengan tatapan ingin tahu, aku bertanya "ada apa ini ya?"

Mereka saling tatap. Lalu salah satu diantara mereka maju dan berkata, "kami ingin kau mengembalikan wanita itu pada suaminya dan pergi jauh dari kampung ini!"

Aku kaget mendengar perintahnya. Aku menatap Dewi. Dewi bersembunyi di belakangku dengan gemetar. Aku tesenyum ramah pada orang-orang itu, "maksud bapak-bapak, ibu Dewi? Dia bisa pulang kapanpun dia ingin. Dia tamu di rumah ini. Jika suaminya datang menjemput, asal ibu Dewi mau pulang ... ya silahkan! Apa suami ibu Dewi ada di sini? Apa pak Harnoko ada di sini?"

Orang-orang menoleh kebelakang. Seorang pria didorong dan ditarik ke depan. Orang itu Harnoko, suami Dewi. Kini aku tahu alasan orang-orang itu berkumpul di depan rumahku. Karena seorang Harnoko.

"Karena ini masalah rumah tangga pak harnoko dan ibu Dewi, saya mohon bapak-bapak bisa membubarkan diri dan tidak lagi berkerumun seperti ini." pintaku.

"Bukan itu saja!! Kami ingin kau pergi dari kampung ini dan tidak pernah kembali lagi. Kami tidak ingin tertimpa bencana karena perbuatan maksiatmu." ucap laki-laki itu.

Aku kaget mendengar tuduhannya, "maksiat? Perbuatan maksiat apa?"

"Jangan menyangkal! Apa kau pikir kami tidak tahu kalau kau ini seorang LBGT? Penyuka sesama jenis! Dan penggoda suami orang! Kau harus minggat dari kampung ini atau di hukum razam!!"

"Hah??" aku takjub mendengar pernyataan mereka. Memang sempat ada selentingan kabar tak enak tentang ku, tapi aku tidak menyangkah kalau mereka berani menuduhku secara terbuka seperti ini. 

"Itu Fitnah!" Dewi yang tadinya ketakutan, maju dengan suara lantang. "Kalian jangan main fitnah! Ibu Eliana orang baik-baik. Dosa kalian, kalau menuduhnya yang bukan-bukan!"

"Kalau dia wanita baik-baik pasti dia sudah menikah. Dia tidak akan menyekapmu di rumahnya dan tidak akan main mata dengan suami orang!" sangkal mereka.

"Astagfirullah hal adzim. Saya main mata dengan siapa?" tanyaku binggung. "

Dewi menatap Harnoko dengan geram, "aku tidak di sekap. Aku punya alasan untuk tidak mau pulang. Tanya sendiri pada suamiku. Orangnya ada di sini." Dewi menunjuk Harnoko. Harnoko terlihat jenggah di tatap oleh semua orang. 

Lalu orang yang paling vokal sedari tadi menengahi, "itu urusan kalian berdua. Tujuan kami adalah mengusir ibu Eliana dari kampung ini..."

"Apa hak kalian mengusir orang seenaknya? Dari rumahnya, dari kampungnya!" terdengar suara keras mengelegar penuh wibawa. Semua orang menoleh kearah si pemilik suara. 

Dia adalah ketua RT ku yang juga adalah teman baikku, Toni. Toni mengamati orang-orang itu satu persatu. Dia mengenali Harnoko dan pria yang vokal diantara mereka. Toni menunjuknya, "kau Ranok, apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah hampir magrib. Ayo bubar!!"

Harnoko menyahut, "saya ingin mengajak istri saya pulang pak RT..."

Toni menatap Dewi, "suamimu mengajak pulang. Ikutlah dengannya.."

Dewi menggeleng tegas, "tidak pak RT. Dia kasar dan suka memukuli saya. Saya tak mau ikut dengannya."

Toni menatap Harnoko dengan tatapan menuduh, "benarkah?"

Harnoko terlihat malu dan binggung, "saya khilaf pak RT."

Dewi menjerit, "Khilaf?? Khilaf itu sekali! Kau memukuli ku berkali-kali. Tidak aku tidak mau pulang!" Dewi meraih lenganku dan memeganginya dengan erat. 

Ranok berteriak, "lihat itu pak RT! Mereka pasangan LBGT!"

Toni menegur Ranok, "hush! Kamu ini ngomong apa? Ayo bubar.."

Ranok menolak, "kami tidak mau bubar. Benarkan teman-teman? Kami tidak akan bubar sampai kedua waniat itu di adili.."

"Apanya yang di adili? Kalian sontoloyo semua! Bubar!" bentak Toni.

Orang-orang berteriak, "tidak! Kami minta keadilan!"

Pak RT gregetan, "ini lho sudah mau magrib. Kalian nggak sholat apa? Pada datang bulan?"

Aku ingin tertawa mendengar perkataan pak RT. Tapi sekuat tenaga ku coba untuk menahannya. Karena melihat wajah-wajah tegang di depanku. 

Toni menatapku, "bagaimana ini, Eliana?"

"Saya ingin masalah ini di selesaikan. Tuduhan mereka tidak mendasar. Mereka tidak berhak mengusir saya. Ini rumah saya. Kampung saya. Saya lahir di sini. Saya ingin keadilan!" ucapku tanpa gentar.

"Kalian dengar itu? Ibu Eliana juga ingin keadilan. Kalian mau ke pengadilan atau ke kantor kelurahan??" tanya Toni.

Orang-orang itu saling berbisik. Ranok sebagai juru bicara berkata kalau mereka memilik ke kelurahan saja. Hansip mendata nama-nama orang yang berkumpul di situ satu persatu lalu menyerahkannya pada pak RT. Ada 9 orang.

"Besok pagi, jam 8, saya tunggu kalian di kelurahan. Harus datang semua. Tidak boleh ada yang tidak datang. Kalian harus mempertanggungjawabkan tuduhan kalian. Sekarang, bubar! Kalau tidak mau bubar, saya panggilkan babinsa!" ancam Toni. 

Entah karena takut atau segan berurusan dengan aparat, akhirnya kerumunan itu bubar. Hingga tinggal Toni dan para hansip. Sebelum pergi Toni berpesan agar besok aku datang ke kelurahan, "jam 8. Jangan telat. Kita bereskan masalah ini. Aku akan memberitahu pak lurah.."

Pak Lurah yang di maksud Toni adalah keponakanku sendiri, Edi. Habis Magrib dia datang kerumah bersama pak RT untuk mengetahui duduk permasalahannya dengan lebih detail. Aku menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi. Termasuk tuduhan mereka tentang LBGT dan penggoda suami orang. 

"Sudah kubilang, hal seperti ini mungkin terjadi. Tidak menikah dan tinggal di desa, seperti ini resikonya, bi. Banyak fitnah!" ucap Edi dengan nada menyesalkan.

Aku diam tak menyahuti ucapannya. Tak juga berniat untuk membela diri.

"Eit, sebentar. Ranok ada diantara mereka? Bibi ingat Ranok?" tanya Edi sambil membaca daftar nama yang ada di tanganya. Aku menggeleng.

"Ranok itu teman Edi, bi. Dia dulu pernah melamar bibi pada kakek, tapi bibi menolak..." Lalu Edi menyebutkan satu persatu nama di daftar itu sambil menjelaskan siapa dan di mana alamatnya, untuk mengingatkan aku.

"Ah ini mah, barisan sakit hati!" ucap Edi pada akhirnya. Toni mengangguk setuju. Lalu dia dan Edi menyusun rencana untuk pertemuan di kelurahan besok.

"Pokoknya, kamu tenang aja, Eliana. Kami akan menjagamu. Kita akan undang semua warga agar hadir untuk mendengar dan melihat dengan kepala sendiri prosesnya. Agar tidak ada lagi gosip-gosip dan berita hoax seperti ini," kata Toni. Aku  mengangguk setuju. 

Edi mendukung tekad Toni. Sebelum pergi, Edi berpesan agar aku mengunci pintu dan tidak menerima tamu siapapun orangnya. Toni berjanji akan menyuruh petugas ronda mengawasi rumahku.

Malam itu, aku dan Dewi tidur di tempat tidur yang sama. Berpelukan dan saling mennguatkan. Dewi sabahat karibku sejak kecil. Kami sudah seperti saudara. Tuduhan tidak mendasar orang-orang itu tidak akan membuat kami saling menjauh dan bersikap seperti orang asing.

******

Warga sudah berkumpul di balai desa ketika aku dan Dewi tiba di sana. Edi, Toni dan para tetua serta aparat desa ada di sana. Aku menyalami mereka satu persatu. Mereka mengangguk prihatin padaku. Jujur ku katakan, aku mengenal mereka semua. Sebagian adalah tetangga dan sebagian lagi adalah teman sekolah. Aku lahir dan besar di desa ini. Warga lama pasti mengenalku. Dan orang-orang yang menuduhku itu, aku tidak mengenal mereka.

Edi menyuruh aku duduk di sampingnya. Dia membuka pertemuan itu dengan kalimat yang mengundang simpati warga. Katanya...

"... saya menyesal sekali karena harus merepotkan bapak-bapak dan ibu-ibu di sini, untuk menjadi saksi jalannya proses 'mencari keadilan' untuk bibi saya dan meluruskan tuduhan beberapa warga bahwa bibi saya seorang LGBT. Sebagai keponakan, saya bersaksi, kalau bibi saya wanita normal seperti ibu-ibu sekalian. Tapi jika ada diantara saudara-saudara yang memiliki bukti kalau bibi saya pengiat LBGT, kita akan memutuskan hukuman yang setimpal bersama-sama..."

Lalu Edi memanggil kelompok penuduh. Ranok mewakili kelompoknya. Aku mengamati pria itu. Lamat-lamat aku mengingatnya. Ya, dia orang yang sama yang datang pada bapakku dulu. Aku memang menolaknya, tapi tidak menyakitinya. Aku tidak tahu kenapa dia bisa sakit hati.

Pembicaraan itu berjalan alot. Kelompok penuduh tetap menginginkan agar aku di usir dari desa dengan alasan takut kena azab. Letih bibirku menjelaskan pada mereka kalau aku bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tapi mereka tidak percaya. Mereka punya bukti. Mereka meminta itikad baik dari aku, kalau benar aku tidak seperti yang mereka tuduhkan, mereka ingin aku menikah saat itu juga dengan memilih salah satu perjaka / duda yang ada di desa kami. Aku terpukul mendengarnya. Sungguh sebuah syarat yang tidak masuk diakal.

Edi mengebrak meja dengan geram, "ini konspirasi! Kalian tidak berhak memaksa seorang wanita baik-baik menikah karena kalian menginginkannya. Menikah adalah hak azazi manusia. Jodoh, rezeki dan anak sudah di atur oleh Allah. Siapa kalian berani mengatur hidup orang lain...?"

"Kami hanya ingin tahu mengapa ibu Eliana tidak mau menikah. Kalau dia kesulitan mendapat jodoh, salah satu dari kami bersedia menjadi suaminya. Apa yang salah dengan itu? Ibu Eliana tinggal tunjuk. Apapun dan berapapun syarat dan mas kawin yang ibu minta, kami akan memenuhinya.."

Mendengar itu, aula pertemuan gempar. Hampir semua warga menganggap tuntutan itu tidak beradab dan tidak bermoral. Edi naik pitam. Wajahnya merah padam menahan amarah. Dia  bangkit. Aku menahan tangannya dan menyuruhnya duduk kembali. Dia menatapku protes. Aku memberinya tatapan memohon. Edi menurut dengan terpaksa.

Aku memberitahu Toni kalau aku ingin bicara. Toni meminta warga berhenti bersuara. Suasana hening seketika dan semua mata memandangku dengan tak sabar.  

Sebelum bicara aku menarik nafas panjang dan memasang wajah pasrah. Aku menatap mata warga yang hadir di hadapanku satu persatu. Ada sebagian dari mereka yang mengangguk padaku sambil mengepalkan tangan untuk memberi semangat. Aku tersenyum haru melihat support mereka. Dan keberanianku pun semakin berlipat ganda. Aku bukan orang yang bisa di paksa. Apalagi di paksa untuk menikah, di hadapan warga desa lagi. Tapi aku harus bersikap diplomatis, jika ingin lepas dari kekacauan ini.

"Hmmm... bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati. Saya mengerti bagaimana perasaan dan pandangan bapak dan ibu terhadap saya yang sendiri ini. Saya bukan LBGT, bukan juga penggoda suami orang. Kalau saya tersenyum pada orang yang saya temui, itu hanya sebagai bentuk sapaan, bukan godaan. Saya mana berani merusak nama baik keluarga saya untuk perbuatan serendah itu..." 

Terdengar suara gumanan. Seorang ibu yang ku kenal sebagai tetangga sebelah rumah dan juga kader PKK bangkit dan mendukungku, "kami percaya. Ibu Eliana orang baik. Selamatkan ibu Eliana...!!" 

Seruan ibu itu di sambut oleh teriakan ibu-ibu yang lain. Edi mengangkat tangan dan meminta mereka diam. Aku mengucapkan terima kasih atas dukungan mereka. Aku berjanji tidak akan mengkhianati dukungan mereka.

"... dan atas tuduhan bapak-bapak, sudah saya jelaskan. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Tuntutan bapak-bapak sangat berat dan saya tidak mungkin bisa memenuhinya.." 

Terdengar suara protes dari kelompok penuduh. Aku memberi isyarat pada mereka agar memberiku kesempatan untuk bicara.

"tapi demi itikad baik. Saya menerima usul bapak-bapak..." 

Para penuduh menarik nafas lega. Wajah mereka yang semula kesal, menjadi sumringah dan bersemangat.  Sementara Edi, dan warga yang lain, tertegun tak percaya. 

"Tapi ada yang perlu bapak -bapak ketahui, saya masih sendiri hingga saat ini ada sebabnya. Sebagai wanita, saya memiliki kriteria pria idaman yang akan saya jadikan suami  Saya tidak bisa menerima jika satu saja kriteria itu tidak terpenuhi. Karena menikah, bagi saya adalah hubungan seumur hidup. Saya ingin suami saya adalah benar-benar suami idaman...."

"Jika diantara bapak-bapak, ada yang memenuhi kriteria ini, dengan segala kerendahan hati, saya akan memohon agar dia mau mengambil saya sebagai istrinya.."

Edi menegurku dengan cemas, "bibi..." Aku mengangguk padanya dan memintanya agar tidak khawatir.

"Adapun syarat kriteria yang saya ajukan sangat sederhana. Saya ingin pria yang akan menjadi suami saya: orang Islam, sabar, penyayang, pengertian, tidak merokok, tidak kecanduan narkoba atau minuman keras, punya pekerjaan tetap, bisa naik pohon, punya ladang dan yang terpenting sekali adalah rajin sembahyang, bisa jadi iman dan hapal Al Quran. Untuk yang terakhir, saya akan mengujinya sendiri.."

Terdengar suara gemuruh dan tepuk tangan. Ada yang berguman kagum dan puas dengan syarat yang aku ajukan, ada pula desah kekecewaan. 

Ranok berdiri, "syarat yang tidak masuk akal. Mana ada pria yang begitu sempurna. Sembahyang pasti bisa, tapi hapal Al Quran? Sampai kemanapun, kau tidak akan bisa menemukan pria seperti itu..."

Dewi refleks berdiri dan menyela, "ada! Pak ustadz!" 

Aku menatap Dewi dengan tatapan tak percaya. Dewi tersadar dan menyesali ucapannya. Dewi menatap pak ustadz dan istrinya dengan tatapan maaf. Orang-orang ikut menatap pak ustadz. Pak ustadz terlihat jengah dan binggung. Dia menatap istrinya. Si istri mengangguk. Aku tak tahu apa maksud anggukan itu.

Harnoko yang sedari tadi diam terkekeh geli, "pak ustadz sudah punya istri..."

"Kalau ibu Eliana mau menjadi istri suami saya, saya tidak keberatan..." ucap istri pak Ustadz.

Aku tertegun mendengarnya. Warga berdecak kagum mengetahui kebaikan istri pak ustadz yang rela dimadu demi membahagiakan wanita lain. Aku tersenyum hormat pada bu ustadz dan berkata, "maaf, saya lupa. Ada satu lagi syarat yang paling utama, yaitu tidak punya istri...." Semua menarik nafas lega.

Aku melanjutkan, "jadi, adakah diantara bapak-bapak yang memenuhi kriteria tersebut?" Tidak ada sahutan. 

Aku pura-pura menyesal, "jika begitu adanya, jangan lagi menyalahkan saya kalau sampai detik ini saya masih sendiri.."

Tidak ada reaksi dari para penuduh. Lalu aku mengungkapkan satu pernyataan yang sudah kusiapkan dan kupertimbangkan baik buruknya sebagai penutup. Pernyataan yang membuat para penuduh atau siapapun bergidik gentar jika dimasa mendatang berniat membuat masalah denganku...

"... kali ini, saya memaafkan dan melupakan apa yang telah terjadi. Tapi lain kali, jika ada kasus seperti ini lagi, ada yang memfitnah dan menuduh saya yang bukan-bukan, saya akan melaporkan ke polisi dan menuntut pelakunya ke pengadilan. Siapapun orangnya, saya akan pastikan dia akan mendekam di penjara dan akan membayar denda ratusan juga rupiah..."

Mendengar ancaman itu itu, para penuduh tertunduk lesu sementara warga bertepuk tangan. Lalu Edi memberikan sambutan penutup yang sangat menohok dan membuat malu Ranok dkk. Dan begitu pertemuan itu ditutup, satu persatu warga menyalamiku dan mengucapkan selamat. 

******

"Untung saja tidak ada satupun yang memenuhi syarat. Kalau ada, aku tak tahu harus bagaimana. Kehilangan istri kesayangku? Not a chance!" ucap pria tampan setengah baya yang duduk disampingku. 

Aku tak mengubris ucapannya. Ku lirik jam dinding. 8 malam. Aku merebut remot dari tanganya, sudah saatnya menonton acara kesayanganku, "Mata Najwa." Sekarang tidak susah mendapatkan channel TV tanah air di luar negeri sejak ada SmartTv.

Aku menata bantal sedemikian rupa agar bisa nonton sambil bersandar dengan nyaman. Terdengar notif hp. Dia mengambil hpnya dan membaca pesan yang masuk. Lalu hening. Aku menyadari keheningan itu setelah beberapa lama. 

Aku menoleh kearahnya, "ada apa?"

Wajahnya terlihat murung, "semua ulah Titik. Titik otak di balik semua itu. Itu sebuah konspirasi. Dia berjanji akan memberi masing-masing mereka 200 juta jika kau sampai menikah. Dan untuk yang berhasil menikahimu, dia akan memberi uang 1 milyar dan beberapa petak sawah..."

"Bagaimana itu mungkin? Dia tahu kalau kita menikah resmi dan punya surat nikah."

"Tapi orang-orang itu tidak tahu. Titik terikat sumpah untuk tidak membongkar rahasia ini. Tapi dia bisa membongkarnya dengan bantuan orang lain. Jahat sekali dia!"

"Stt... jangan bilang begitu. Ada sebab dia melakukan itu. Bukan salah dia sepenuhnya. Sudahlah! Lupakan! Toh tidak terjadi apa-apa.." himbauku.

Tapi pria tampanku ini tak bisa menerima himbauanku begitu saja. Dia menurunkan kakinya dari ranjang, dan duduk membelakangiku. Tak perlu melihat wakahnya, aku tahu dia sedang sedih, galau dan gusar. Kalau sudah begitu, aku harus bertindak. Jika di biarkan, dia akan merusak suasana liburan ini. Dan aku tidak rela. jauh-jauh ke Atlanta cuma untuk melihat wajah murungnya.

Kutarik pinggangku sampai aku terduduk. Kupeluk pria tampanku dari belakang. Dan kusandarkan kepalaku di punggungnya yang telanjang. Hangat tubuhnya menjalari pipiku. Dia meraih pergelangan tanganku yang memeluk dadanya dan mengusapnya dengan lembut.

"Apakah  sebaiknya .... aku menceraikan dia? Kali ini dia sudah keterlakuan!" ucapnya di luar dugaan. Aku terlonjak dan memukul punggungnya dengan refleks. 

Pria tampanku menoleh dengan kaget, "kenapa?"

Aku menatapnya marah, "jangan pernah memikirkan hal itu!"

"Aku...." ucapnya binggung. 

Aku tahu dia bukan pria kejam semena-menaa yang tega menyakiti wanita. Apalagi wanita itu adalah ibu dari anak-anaknya. Tapi cinta terkadang membutakan semuanya. Dan aku beruntung, karena cintanya padaku yang membuatnya buta. Sehingga aku bisa menuntunnya, dan menunjukan jalan yang benar.

Aku menggenggam tangannya dan memintanya untuk berjanji sekali lagi, agar tidak pernah bicara tentang perceraian. 

"Orang berbuat khilaf setiap saat setiap waktu, kitapun begitu. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bisa mendapatkan semuanya. Kita hanya bisa berharap yang terbaik. Dan yang terbaik bagi kita bertiga adalah tetap seperti ini. Demi anak-anak, demi aku, demi Titik dan demi orang-orang yang menaruh harapan besar padamu. Aku percaya, kau tidak akan mengecewakan kami semua. Karena namamu, Prayogo Prasetyo..."

"...Baik dan setia..." bisikku di telinganya.

Pria tampanku, Prayogo.... meraih kepala ku dan mencium keningku dengan lembut. Lalu dia memeluk erat tubuhku. Aku menyembunyikan wajahku di lehernya. Sekali lagi dia menunduk dan mencium keningku sambil berkata, "aku tidak tahu, jadi apa aku tanpamu.."

Aku melepas pelukannya, "kau akan jadi pria idaman wanita. Baik, penyayang, penuh pengertian...." 

Aku mengucapkan itu sambil menyandarkan tubuh di atas bantal nyaman yang sempat kulupakan tadi. Mata Najwa telah sudah tayang. Prayogo ikut berbaring di sampingku. Wajahnya menyusup di leherku dan tangannya melingkar diatas perutku. 

Tidak berapa lama dia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan penasaran. Aku balas menatapnya dengan heran. 

Dia bertanya, "kenapa harus bisa naik pohon?" Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya. 

"Kau tahu aku tidak bisa naik pohon kan??" tanyanya.

"Aku bisa!" jawabku.

"Aku hanya bisa menaiki-mu..." 

Lalu.....

NEXT

Popular Posts

Loading...
Loading...