Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

'Istriku, aku Imam-mu, bukan pelayan-mu!"

"Seandainya aku bisa memerintahkan seseorang sujud pada orang lain, pasti aku akan perintahkan seorang Istri untuk Sujud pada Suaminya.." (HR Abu Dawud, A-Hakim, Tirmidzi)

Ini kisah seorang Suami yang tidak mampu memenuhi kewajibannya secara finansial kepada keluarganya, sehingga si suami bertukar posisi dengan istri. Si istri yang PNS sibuk dengan kariernya sebagai Guru yang kini meningkat menjadi kepala sekolah. Tahu sendiri tanggung jawab seorang kepala sekolah sangat besar. harus kesana-kemari menyelesaikan berbagai urusan. Demi kelancaran, maka si istri meminta si suami untuk menyupiri kemanapun dia pergi. Si suami yang merasa tidak mampu berbuat lebih selain menyokong karier istri tidak keberatan menjadi supirnya kemanapun di butuhkan. Semua di lakukannya dengan tulus, sebagai satu tanggung jawab.

Namun ketulusan si suami terkadang harus di bayar dengan perasaan. Seringkali si istri kalau kesal menumpahkan kemarahannya pada si suami. Dia membentak suaminya di manapun tak pandang bulu. Kadang di depan anak buahnya ataupun di depan khalayak ramai. Si suami hanya bisa tertunduk malu. Banyak yang merasa iba, tapi tak satupun yang bersuara apalagi berani mengingatkan pada si istri kalau sikap kasarnya pada suami itu salah. 

Di dalam rumah tangga, nasib suami lebih mengenaskan lagi. Dia melayani istrinya bak putri raja. Apapun di kerjakan suami. Niat suami tulus, tapi si istri kadang terkesan memanfaatkan kebaikan si suami. Seringkali, si istri meminta suaminya melakukan ini - itu padahal dia mampu melakukannya sendiri. Bahkan sering kali jika si suami salah dalam mengerjakan tugasnya si istri marah dan menyalahkannya. Kadang kata-kata kasar terucap tanap saringan. Si suami hanya bisa mengelus dada dan berusaha bersabar. Bagaimanapun, dia sangat mencintai istrinya. Dan tidak terbayangkan kalau harus berpisah dengan dia dan anak-anaknya. Dalam doa, si suami selalu memohon agar kesabarannya berlipat ganda dan istrinya di beri kesadaran bahwa dirinya bukanlah pelayan, tapi Imam-nya, panutannya dan kepala rumah tangga...


Pembaca yang budiman, sekelumit kisah di atas telah menjadi fenomena dalam masyarakat kita. Memperlakukan suami secara semena-mena apalagi di hadapan orang banyak, tidak akan menjadi kebanggaan, tapi kekuarangan yang mencolok mata. Apalagi kalau sampai suami tersakiti hatinya, maka Allah mengharamkan istri tersebut mencium wanginya surga, apalagi sampai masuk kedalamnya.

Di mata Allah, kedudukan adalah yang paling tinggi. Seorang istri wajiba menghormati suaminya, mentaati perintahnya dan tidak melanggar larangannya. Bagi seorang suami, restu suami adalah restu Allah. Seorang istri yang melakukan sesuatu tanpa restu Suami apalagi sampai membuatnya marah akan mendapat laknat. Meskipun sang suami tidak seperti yang di harapkan. Karena suami adalah pengganti orang tua. Ketika seorang pria mengucapkan ijab kabul maka semua tanggungjawab orang tua beralih pada suami. Dan Syurga istri terletak di telapak kaki seorang suami. 

"sebaik-baiknya wanita `untuk seorang suami` adalah yang menyenangkan saat di lihat, taat di perintah, dan tidak menentang suamim baik dalam hatinya serta tidak membelanjakan harta suami pada perkara yang di benci olehnya.." (H.R Ahmad)

Jadi para istri, ingatlah! Setinggi apa karier Anda, Suami harus tetap Anda utamakan! Hormati dan taatilah dia. Jangan sakti hatinya, mereka ~para suami~ adalah pemegang kunci surga untuk para istri. Mereka adalah Imam Anda, bukan pelayan! Jika mereka 'melayani' Anda, itu karena tulusnya kasih sayang, bukan karena kewajiban. Karena suami tidak punya kewajiban melayani istri. Istri yang berkewajiban melayani suami dengan baik. Jangan di putar balik ya. Semoga Allah merestui rumah tangga kita semua dan menjadikan kita keluarga yang SAMAWA. Aamiin.



Popular Posts

Loading...
Loading...