Loading...
Loading...

Cinta yang terbagi bag 6

“Jodha…. Jodha…” Nyonya Menawati memasuki kamar Jodha sambil memanggil anaknya.
Jodha menyahut, “ya ma…”

Nyonya menawati celingukan mencari sosok Jodha, “di mana dirimu?”

Jodha melongokkan wajahnya dari balik pintu lemari. Nyonya menawati bergegas menghampirinya, “apa yang kau lakukan, Jodha?”

Jodha sedang berusaha meraih resleting gaunnya dengan susah payah. Lalu sambil memohon, dia menyodorkan punggungnya pada Menawati, “tolong ma…”

Nyonya Menawati segera mengancingkan resleting gaunnya dengan mudah sekaligus merapikannya. “Abangmu sudah menunggu. Apakah semuanya sudah siap?”

“Ya. Tinggal berangkat saja…”

“Jangan lupa Hp dan Chargernya. Ingat, selalu aktifkan hpmu. Mama tidak ingin berprasangka buruk dan was-was kalau sampai panggilan mama di luar jangkauan…”

“Iya. Mama jangan khawatir. Aku akan selalu mengabari mama. Jadi jangan cemas ya…” Jodha mencium pipi mamanya. Menawati membantu membawakan tas kerja Jodha, sementara Jodha menenteng koper mungilnya. Keduanya berjalan ke beranda di mana Bhgwandas dan Khangar Singh sedang duduk-duduk menunggu.

Melihat kehadiran Jodha dan Menawati, Khangar segera bangkit dan mengambil koper dan tas dan memasukannya ke dalam mobil.

“Itu saja Jo?” tanya Khangar

Jodha mengangguk, “ya bang. Aku cuma 2 hari di sana. Besok acaranya. Paling lusa aku sudah kembali..”  

“Ya, kabari lagi sebelum pulang. Agar kau tidak menunggu lama di bandara…” pesan Bhagwandas.
Lalu Jodha berpamitan pada Menawati dengan mencium tangan dan pipinya, “mana ayah, ma?”

“Ayahmu sedang melihat ke bengkel untuk melihat perbaikan mesin giling kopi yang baru. Ayahmu berpesan agar berhati-hati..” ucapmenawati sambil memeluk Jodha.

“Pasti….” Lalu Jodha masuk ke mobil dan duduk kursi penumpang. Sementara Bhagwandas dan Khangar duduk di kursi depan.

Setelah semua siap, Bhagwandas memacu mobilnya meninggalkan Fazenda. Jodha dan menawati saling melambaikan tangan. Belum juga jauh, Hp Jodha berdering. Jodha mengangkat panggilan itu. Dari apotek.

“ya Moti?” tanya Jodha.

Susi, asisten Jodha di Apotek memberitahu kalau ada pelanggan ingin bertemu, “dia memaksa sekali Jo. Aku sudah bilang kau sedang tidak di tempat…”

“Siapa sih?”

“Nyonya Ruqayah. Penting sekali katanya…”

“Oh ok. Aku akan menemuinya..”

Setelah menutup telponnya, Jodha meminta Bhagwandas mampir ke Apotek sebentar.

“Apa masih ada waktu, Jo? Nanti kau ketinggalan pesawat bagaimana?” kata Bhagwandas mengingatkan.

“Sebentar saja…”

Bhagwandas menuruti keinginan Jodha. Begitu lewat di depan Apotek, Bhagwandas membelokkan mobilnya. Jodha meminta kedua kakanya menunggu di mobil saja. Karena dia tidak akan lama.

Dengan sigap Jodha meloncat turun dan melangkah cepat kedalam apotek. Melihat kehadiran Jodha, Ruqayah langsung berdiri menyambutnya. Kedua wanita itu saling berpelukan,

“Maaf jeng, aku memaksa sekali...” ucap Ruqayah dengan nada menyesal saat keduanya telah masuk keruang kerja Jodha.

“Ada apa Nyonya?” tanya Jodha dengan sopan, “silahkan duduk..”


Ruqayah memberitahu Jodha masalahnya. Jodha mendengarkan dengan seksama.

“Jadi.. aku ingin ramuan yang sama seperti yang di minum temanku itu. Jujur aku sudah meminum banyak ramuan herbal, tapi tak satupun yang berhasil…”

“Bagaimana dengan kondisi kesehatan nyonya dan tuan?” tanya Jodha

“Dokter yang memeriksa kami mengatakan kalau kami berdua sehat dan normal…”

“Syukurlah jika begitu. Karena terapi ramuan herbal ini memiliki syarat, yaitu kedua pasutri dalam kondisi sehat dan fit untuk punya anak. Jika tidak, saya tidak menganjurkannya karena peluangnya sangat kecil…”

“Kira-kira, ramuannya seperti apa jeng? Apakah pahit?”

Jodha tertawa, “apakah nyonya takut ramuan pahit?”

Ruq menggeleng, “tidak juga. Tapi ramuan herbal terakhir yang kuminum sangat pahit. Tapi itupun tidak berhasil…”

Jodha tersenyum, “ramuan kesururan dari saya sangat lezat, nyonya. Siapapun pasti suka meminumnya. Saya akan memberikan resep, nanti asisten saya yang akan menyiapkan semuanya…”
“Apakah dia bisa di percaya?” tanya Ruqayah ragu.

“Dia sudah sangat berpengalaman. Jangan kahwatir. Oh ya, meminum ramuan itu harus di iringi dengan olahraga ringan setiap pagi, seperti jalan kaki, atau bersepeda santai. Minimal 30 menit setiap pagi. Agar metabolisme tubuh lancar. Dan satu lagi, aktivitas sexual Nyonya dan Tuan harus di atur ulang. Tidak boleh terlalu sering ataupun terlalu jarang. Yang bagus adalah 2 hari sekali….”

“Kalau suami minta berkali-kali, bagaimana jeng?”

Jodha tersenyum, “nyonya harus memberinya pengertian. Karena yang di butuhkan dalam upaya kehamilan adalah kualitas sperma yang sehat bukan kuantitas hubungan intimnya..”

“Dokter kandungan ku dulu juga pernah berkata begitu. Tapi ya… gimana lagi. Kalau suami minta lagi masak di tolak, kasihan kan…”

Jodha tersenyum penuh pengertian. Lalu dia menuliskan resep ramuan herbal untuk kesuburan dan memberikannya pada Nyonya Ruqayah.

Ruqayah membaca bahan-bahannya dan kaget, “hanya ini saja?

Jodah mengangguk, “hanya itu saja. Lakukan rutin tiap hari. Insya Allah, akan segera membuahkan hasil. Dan … jika saat ini nyonya sedang meminum ramuan herbal lainnya tolong di hentikan dulu. Termasuk obat-obatan pemacu hormon. Kita fokus dengan terapi ini dulu selama 6 bulan. Dan lihat bagaimana hasilnya…”

“Jadi Salima mengkonsumsi ramuan ini agar bisa hamil…” guman Ruqayah.
“Nyonya Salima Halim?” tanya Jodha

“Benar. Dia teman saya di club. Dia yang memberitahu aku tentang klinikmu, tapi tidak mau memberitahu apa resepnya…”

“Nyonya Salima melakukan terapi ramuan kesuburan selama 3 bulan sebelum akhirnya beliau hamil. Kalau tidak salah, buah hatinya sudah berusia 6 bulan sekarang..”

Ruqayah membenarkan, “debay yang imut dan menggemaskan…”

Jodha tersenyum, “baiklah kalau begitu,mari kita temui Moti, agar segera menyiapkan resep ini. Dan maaf, saya tidak bisa menemani nyonya lebih lama, karena ada penerbangan yang harus di kejar. Jika ada yang ingin di tanyakan atau apapun, nyonya bisa menghubungi nomer yang tertera di kertas resep itu. Dan akan langsung tersambung dengan saya..”

Ruqayah menatap nomer telpon di resep dan mengangguk. Lalu dia dan Jodha keluar. Jodha menyodorkan salinan resep pada Moti, “siapkan untuk 10 hari. Dan beritahu, suplayer susu segar untuk mengantar langsung kerumah Nyonya Ruqayah setiap hari..”

Moti mengambil resep yang di sodorkan Jodha. Jodha mempersilahkan Ruqayah menunggu, sementara Moti menyiapkan bahan-bahan yang di butuhkan.

“Baiklah Nyonya, saya tinggal dulu…” pamit Jodha. Jodha mengulurkan tangannya. Ruqayah menyambut jabat tangan Jodha dan keduanya berpelukan sebelum berpisah.

Ruqayah menatap kepergian Jodha dengan tatapan penuh harap sambil berguman lirih,“semoga aku segera punya anak, seperti Salima….”

Sayangnay Jodha sudah masuk kemobilnya. Kalau dia mendengar doa Ruqayah, pasti Jodha akan mengaminkannya. *** 


Bagikan :
Home
loading...