Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Cinta yang terbagi bag 4


Jodha menatap Jalal dengan tatapan heran, “itu bunga Peoni. Dan anda sendiri? “

Jalal mengulurkan tanganya, “aku Udin.  Aku mengantar Nyonya Hamida ..”

“Anda sopirnya?” tanya Jodha.

Jalal tertawa, “bisa di bilang begitu. Dan dirimu?”

“Saya putri pemilik rumah ini…” sahut Jodha, “bisakah anda memberi saya jalan?”

Jalal melangkah minggir dan membiarkan Jodha lewat. Jodha tersenyum pada Jalal sambil mengucapkan terima kasih. Jalal membuntuti Jodha.

Menawati menyambut Jodha, “darimana saja? Aku menelponmu dari tadi…” Jodha tersipu malu, “maaf ma, tidak terdengar..”

Jodha mendekati Hamida yang berdiri menyambutnya. Sambil menjabat tangan Hamida dengan takzim, Jodha berkata, “maaf Nyonya, karena membuat Anda menunggu..”

Hamida menepuk bahu Jodha, “tidak apa. Aku menikmati pemandangan rumah ini. Asri sekali..”

Tuan Bharmal keluar bersama Bhagwandas. Jodha menyambut ayah dan kakaknya dengan anggukan kepala. Dan hendak pamit untuk menyegarkan diri ketika Nyonya Hamida mencegah, “tidak perlu, kami terburu-buru. Apakah kita sepakat dengan kerjasama ini?”

Tuan Bharmal dan Jodha serta Bhagwandas saling tatap. Jodha mengambil map yang di sodorkan ayahnya. Dan mempersilahkan nyonya Hamida duduk. Jalal yang berdiri di belakang nyonya Hamida mengamati semuanya dengan seksama. Tuan Bharmal mempersilahkan Jalal duduk, tapi Jalal dengan sopan menolak.

Jodha membuka proposal yang telah mereka pelajari semalam dan mengajukan klausa yang telah di sepakati. Nyonya Hamida mengangguk-angguk paham, “memang seperti itu yang kami maksudkan. Semua hasil panen kami tampung. Jadi tak perlu kahwatir tentang pemasaran. Begitu tiba masa panen, kami akan mengirim tenaga terlatih untuk memungguti buah okra yang sesuai dengan kriteria…”

Tuan Bharmal tersenyum gembira, “jika seperti itu adanya, kami menerima kerjasama ini…”


Jalal membisikan sesuatu ke telinga Hamida. Hamida mengangguk, “dan kami juga ingin kepastian, bahwa kalian bisa memenuhi omzet yang kami minta. Yaitu 200 kg per bulan…”

Jodha menatap Bhagwandas. Bhgwandas mengangguk, “ini pertama kali kami menanam okra. Jika data-data tentang tanaman ini sesuai dengan yang diatas kertas, kami pasti sanggup memenuhinya. Jadi nyonya tidak perlu khawatir. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target yang di tetapkan. Tapi untuk yang pertama, kami mohon kelonggaran…”

Jalal berbisik lagi. Tuan Bharmal menyela dengan rasa ingin tahu, “…anak muda ini…”

Nyonya Hamida menyahut cepat, “dia…” Jalal memotong ucapan Hamida, “saya supirnya…”

Hamida heran mendengar pengakuan Jalal tapi tak mau membantah, malah menegaskan, “..merangkap penasehat. Dia salah satu ahli di bidang tanam menanam okra. Apapun yang ingin kalian ketahui tentang Okra, bisa tanyakan padanya. Atau kalau perlu, dia bisa menjadi konsultan  dan pendamping ahli…” Jalal mengangguk setuju.

Tuan Bharmal mengiyakan dengan gembira. Sementara Jodha tak terlalu mengacuhkannya. Dia sibuk membaca akte kerjasama untuk kesekian kalinya dan mempersiapkan kertas itu di meja untuk di tandatangani oleh ayahnya dan nyonya hamida.

Setelah penandatanganan kerjasama itu selesai, nyonya Hamida dan Jalal pamit. Tuan Bharmal coba mengajak mereka sarapan bersama, tapi mereka menolak karena di buru waktu. Lalu kedua pihak saling berjabat tangan. Untuk pertama kalinya Jalal merasakan getaran di dada saat menjabat tangan seorang wanita. Dan wanita itu adalah Jodha… ***

Popular Posts

Loading...
Loading...