Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Cinta yang Terbagi bag 10


“Tapi kami belum pesan…” ucap Surya heran.

Pelayan menunjukan nota pemesanan, “ini notanya, apakah ada lagi yang ingin di pesan?”

Jodha mengambil nota yang di sodorkan pelayan. Dia membcca daftar pesanan satu persatu. Semua menu favoritnya sudah ada dalam daftar pesanan. Jodha menatap Surya. Surya menggeleng. Dia iku memeriksa daftar pesanan.

“Banyak sekali…”

“Di situ tertulis untuk 3 orang..”

“Reservasi saya meja nomer 10, untuk 2 orang…” jelas Surya

“Betul. Beberapa waktu yang lalu, ada ralat, kalau reservasi atas nama Mr Suryabhan 3 orang…”

“Tapi saya tidak meralatnya…”

Pelayan hendak memanggil managernya ketika Jalal datang. Melihat Jalal, pelayan memberi salam. Jalal mengangguk.

“Kalian sudah dari tadi?” tanya Jalal tanpa bersalah.

“Apakah Anda yang memesan ulang meja kami?”

Jalal mengangguk, “iya, Apakah ada masalah? Kalian bilang tidak keberatan kalau aku bergabung..”

Surya dan Jodha saling pandang. Jodha mengangguk kearah Suryabhan. Suryabhan mengerti maksud Jodha dan tidak memperpanjang masalah.

Lalu hidangan pembuka datang. Chicken egg roll, Shrimp egg roll dan Gyoza. Selera makan Jodha langsung naik melihat makan favoritnya. Jalal mengambil sumpit dan mengambil 3 macam hiadangan itu di satu piring kecil, lalu menyodorkannya pada Jodha.

“Lady First…” ucapnya sambil tersenyum penuh arti. Surya mengamati kelakuan Jalal dengantatapan penuh selidik. Jalal pura-pura tak merasa, “selamat makan, Jodha…. Pak Surya. Mari….!”

Jalal menyodorkan piring yang lain kehadapan Surya. Surya mengucapkan terima kasih dengan sopan. Dia lalu mengambil hidangan dengan sumpit dan meletakkan di piringnya..

Jodha makan Shrimp egg roll dengan nikmat. Dia teringat dulu saat masih kuliah, dirinya dan Surya sering ke Jln Sudirman hanya untuk menikmati Shrimp egg roll. Teringat itu Jodha tersenyum.

Jalal melihat senyum Jodha dan tergelitik untuk bertanya, “kenapa?”

Jodha menggeleng, “tidak apa-apa. Aku hanya ingat dulu aku sering memaksa Surya agar mengantar ku ke restoran Rice Bowl yang di Sudirman hanya untuk menikmati  Shrimp egg roll…”

Surya turut tersenyum, “moment tak terlupakan saat kita terjebak banjir…”

Jodha mengangguk. Jalal menatap keduanya bergantian, “kalian berdua??”

Jodha menjelaskan pada Jalal kalau dirinya dan Surya kuliah di Universitas yang sama tapi beda jurusan, “kami pernah mengambil satu mata kuliah yang sama…”

“Jadi, kalian teman kuliah?” tanya Jalal.

“Dulunya, dan berlanjut sampai sekarang..” Jodha melirik Surya dengan akrab.

Jalal bertanya dengan rasa ingin tahu, “apakah hanya sekedar teman?”

Surya balik bertanya, “maksud mu?”

“Maksudku … apakah kalian hanya sekedar berteman? Kalian terlihat sangat akrab…” tanya Jalal

Jodha tertawa, “oh… kami pernah hampir berpacaran. Tapi sayang, saat itu Surya telah bertunangan..”

Surya tersenyum kikuk. Jodha menanyakan kabar tunangan Surya. Surya menjawab, kalau tunangannya itu telah menikah dengan pria lain karena tidak sabar menunggunya. Jodha menyentuh lengan Surya dan menghiburnya, “jangan sedih, kau pasti akan menemukan wanita yang lebih baik . Kau ini pria idaman, Surya. Tidak susah bagimu menemukan wanita lain, jika kau mau membuka diri…”

Surya tersenyum, “benarkah?”

Jodha mengangguk, “ya. Apakah ada wanita yang sudah membuatmu terpikat?”

Surya terdiam sejenak, seperti berpikir. Lalu jawabnya, “ada. Tapi aku tidak tahu, apakah dia punya perasaan yang sama padaku…”

Jalal yang mengerti siapa yang di tuju Surya berdehem, “kau harus mencari tahu dulu sebelum mengungkapkan isi hatimu. Karena di tolak itu sangat menyakitkan…”

Surya menatap Jalal sambil memicingkan mata, “oh ya? Apakah kau pernah di tolak wanita?”

Jalal menggeleng, “tidak…”

Surya mengejar, “tidak atau belum?”

“Tidak dan tidak akan pernah!”

“Jangan terlalu percaya diri dulu. Kau tidak akan tahu apakah di terima atau di tolak sampai kau mengatakan perasaanmu padanya…” ucap Surya meniru kata-kata Jalal , redaksi berbeda tapi maksudnya sama.

Jalal menggeleng pasti, “aku ini tipe pria yang gigih, aku tidak akan mundur sampai wanita yang kucintai bilang iya…”

“Wah, hebat sekali. Patut di contoh itu Surya. Jangan mudah putus asa kalau memang mencinta. Seperti air yang menetes diatas batu. Perlahan tapi pasti suatu ketika batunya pasti akan berlubang. Itu batu lho. Apalagi wanita. Wanita di takdirkan memiliki perasaan yang lembut dan peka, serta mudah luruh oleh perhatian dan limpahan kasih sayang…”

“Benarkah?” tanya Jalal dan Surya hampir bersamaan.

Jodha tertawa, “itu kata Meysha Lestari dalam  Novelettanya…”

Jalal dan Surya ber ‘Oh’ serempak. Jodha menghibur keduanya, “jangan cemas. Dalam mencintai wanita, ketulusan kalian akan di uji. Karena hanya sesuatu yang di berikan dengan hati akan di terima oleh hati…”

“Apa itu kutipan dari novel lagi?” tanya Jalal.

Jodha menggeleng, “iya… oh tidak. Itu prinsipku. Dalam melakukan sesuatu kita harus tulus dan ikhlas. Agar apa yang kita berikan bermanfaat untuk yang menerima. Bukan begitu Surya?” Surya mengiyakan.

Lalu pelayan datang mengantarkan hidangan utama.  Mereka bertiga menikmati makan malam itu dengan damai. Meski ada bibit-bibit perseteruan antara Jalal dan Surya, tapi mereka tetap berusaha terlihat akrab dan sopan. Tidak ada sindiran-sindiran yang menyakitkan perasaan. Karena sepertinya baik Surya ataupun Jalal sama-sama tidak ingin membuat Jodha merasa canggung dan terjepit.

Lalu setelah menyantap makanan penutup, Surya memanggil pelayan untuk meminta bon. Tapi pelayan berkata kalau pesanan sudah di bayar. Surya menatap Jalal. Jalal mengendikkan bahu.

“Kau seharusnya membiarkan aku membayar 50% dari tagihan…” ucap Surya.

“Simpan saja dulu. Lain kali aku juga ingin di traktir olehmu..” sahut Jalal dengan nada bercanda.

“Kalau ada lain kali...”

“Pasti! Malam ini aku sangat senang. Karena aku punya kenalan baru, yaitu dirimu…” jelas Jalal. Dengan gentlemen, Jalal mengulurkan tangan, “ayo kita jabat tangan sekali lagi…”

Surya menyambut uluran tangan Jalal sambil berkata, “musuh gampang di cari, tapi  teman yang baik, susah di temui…”

“Betul sekali. Semoga kita bisa menjadi teman baik…” sahut Jalal.

Kedua pria itu berjabat tangan lama. Seolah saling menjajagi kemampuan masing-masing. Melihat itu Jodha berdehem, “kalian… tidak saling tertarik kan?”

Jalal dan Surya serentak saling menepis tangan masing-masing. Melihat itu Jodha tertawa geli, “aku hanya bercanda…”

Lalu Jodha mengajak kedua pria itu meninggalkan restoran. Malam sudah larut. Jodha ingin kembali ke hotel. Surya dan Jalal mengantarnya sampai Lobby. Surya berpesan pada Jodha agar besok pagi tidak terlambat. Lalu Surya pamitan pada Jodha, karena dia juga harus pulang. Dia mengajak Jalal juga. Tapi Jalal menggeleng, “aku tinggal. Hati-hati di jalan..”

Surya dan Jodha menatap Jalal dengan heran. Jodha bertanya, “apa maksudmu kau akan tinggal?”

“Aku menginap di sini. Di lantai 3, kamar 105…” ungkap Jalal.

“Bukankah kau harus ke Bandung?” tanya Jodha mengingatkan.

“Seharusnya memang begitu. Tapi aku lelah sekali setelah menyetir mobil Jakarta –Bogor.  Jadi aku memutuskan menginap di sini. Apa kau keberatan?”

Jodha mengedik kan bahu, “tidak masalah..”

Surya menatap Jalal dengan kesal. Tapi di hadapan Jodha dia berusaha menyembunyikan kekesalannya itu. Surya kembali berpamitan. Jodha berpesan agar Surya berhati-hati. Surya melambaikan tangan dan pergi. Jodha membalas lambaian Surya, begitu pula Jalal. Surya melotot kesal pada Jalal. Jalal tersenyum lebar.

Popular Posts

Loading...
Loading...