Loading...
Loading...

Cinta yang Terbagi bag 1


Suasana di apotik dan toko herbal yang di kelola Jodha sedang ramai pengunjung. Sebagai Apoteker, Jodha sibuk memeriksa resep dokter yang di sodorkan pasien dan memberi arahan pada asistennya untuk menyiapkan obat seperti yang tertera di resep. Setelah obat tersedia, Jodha memanggil konsumen dan memberi penjelasan tentang obat yang di tebusnya, seperti manfaat dan kegunaan serta cara mengkonsumsinya, termasuk juga kontra indikasinya. Dalam melaksanakan tugasnya, Jodha benar-benar berdedikasi.

Apotik yang dikelolahnya bekerja sama dengan banyak dokter dan klinik kesehatan, baik dokter yang praktek pribadi atau dokter rumah sakit. Hampir semua dokter menganggumi kinerja Jodha dan merekomendasikan Apotik Hidup Sehat sebagai tempat menebus resep dokter terbaik. Jodha tidak pernah membujuk pasien untuk membeli obat lain jika obat yang di resepkan dokter tidak ada. Kalau pun ada niat untuk memberikan obat pengganti yang serupa dengan merek berbeda, Jodha pasti berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang mengeluarkan resep. Jika dokter bersangkutan mengizinkan, baru Jodha memberikan obat pengganti yang serupa namun dengan merek berbeda. Tapi intinya, semua yang di lakukan Jodha bisa dia pertanggungjawabkan secara moral dan ilmiah.

Jodha merupakan sarjana farmasi lulusan UI yang memutuskan kembali ke kota kelahirannya untuk mengabdikan diri pada masyarakat sebagai apoteker di apotek miliknya sendiri. Semula keinginan Jodha itu tidak di dukung oleh Tuan Bharmal Wismoyo, ayahnya. Seorang tuan tanah yang idealis dan perfeksionis. Yang perkebunan Lada, cengkeh dan kopinya tersebar di pelosok kota. Tuan Bharmal ingin Jodha meneruskan usahanya mengelola perkebunan. Tapi dengan halus Jodha menolak. Tuan Bharmal sempat kecewa, tapi melihat pasion Jodha di dunia pengobatan dan farmasi, Nyonya Menawati membujuk suaminya agar memahami dan mengerti keinginan Jodha. Dan menyarankan agar tuan Bharmal membagi tanggungjawab perkebunan pada anak-anak lelaki mereka.
Tapi Tuan Bharmal menolak, menurutnya hanya Jodha yang mampu memenej perkebunan mereka dengan baik. Sementara anak-anak lelaki nya tidak punya kemampuan itu. Mereka memang pekerja keras dan sangat rajin, tapi mengatur pembukuan dan keuangan butuh keahlian. Dna hanya Jodha yang memiliki bakat alami untuk itu.

Bhagwandas memang memiliki tangan malaikat, apapun yang di tanamnya, akan tumbuh dengan bagus tapi dalam hal managemen dia tidak sepintar Jodha. Begitu pula adik-adik Bhagwandas, mereka pekerja yang rajin, tapi kemampuan managemen mereka juga tidak bagus. Karena itulah, seminggu 2 kali, Jodha pergi kegudang untuk memeriksa managemen perkebunan mereka, terutama masalah keuangan dan stok barang perkebunan.


Seperti sore itu. Sepulang dari apotek, Jodha langsung ke gudang. Dia memeriksa pembukuan. Banyak tanaman palawija yang di panen minggu itu. Dia melihat struk penjualan hasil panen dan mengkalkulasi ulang dengan biaya produksi yang di keluarkan untuk penanamannya. Hasilnya, terlihat keuntungan yang cukup besar. Jodha terlihat puas.

Mandor yang di percaya mengurus lahan palawija dan Bhagwandas menemui Jodha. Bhagwandas mempunyai rencana untuk menanami bekas lahan yang telah di panen dengan tanaman tumpang sari Buncis dan Cabe. Karena tanaman terakhir yang di tanam adalah jagung manis, Jodha menurut saja dengan ide Bhagwandas. Jodha meminta Bhagwandas menghitung semua biaya produksi yang di butuhkan berikut benih beserta pupuk dan pestisidanya.

Menghitung biaya produksi sebelum pengolahan tanah, adalah prinsip utama manajemen Jodha. Dia tidak mau berspekulasi. Dia punya prinsip, kalau mau kerja yang harus bekerja 100%, tidak ada namanya coba-coba. Karena keberlangsungan perkebunan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Baik  para pekerja musiman ataupun harian.

Tanah seluas 50 ha yang di miliki keluarga Wismoyo terdapat di batas kota. Di tanah dataran tinggi yang berbatasan dengan hutan bukit barisan. Meski berada di dekat hutan, tapi tanah  itu merupakan tanah marga. Yang di beli keluarga Wismoyo dari para petani Transmigrasi yang tidak kerasan tinggal di sana.

Kisahnya, dulu di zaman rezim Orda, pemerintah melakukan transmigrasi besar-besaran untuk penduduk pulau jawa. Salah satu daerah tujuan transmigrasi itu adalah kota di mana Jodha tinggal sekarang. Dulu kota itu tidak seramai sekarang. Hampir sebagian besar masih berupa hutan belukar. Setelah menjadi daerah transmigrasi di lakukan perombakan besar-besaran. Setiap warga trans mendapatkan jatah tanah 2,5 ha yang telah di olah dan siap tanam. Yang kerasan terus tinggal, mengolah tanah dan menanaminya dengan tanaman kopi yang merupakan tanaman lokal. Yang tidak kerasan menjual tanah itu pada orang lain dan dengan berbekal uang hasil penjualan lahan itu kembali ke pulau jawa. Dan leluhur Jodha, adalah salah satu warga trans yang betah dan berhasil memperluas tanahnya dengan membeli tanah-tanah yang di jual oleh warga trans yang tidak kerasan. Dengan semangat kerja yang tinggi, leluhur Jodha berhasil mengukuhkan diri sebagai tuan tanah dan mewariskan tanah perkebunan itu pada anak lelaki satu-satunya, Tuan Bharmal.

Sesuai peraturan keluarga, sebagai anak lelaki satu-satunya, Tuan Bharmal mewarisi tanah keluarga dan bertanggung jawab atas kehidupan saudara-saudara perempuannya. Setiap tahun, 50% dari keuntungan bersih perkebunan masuk ke kas keluarga. Uang kas itu kelak akan di gunakan untuk membeli sebidang tanah atau sebuah rumah untuk tempat tinggal saudara-saudaranya yang lain di manapun mereka  menginginkannya. Jadi ilah-ilah tidak mendapatkan warisan keluarga berupa tanah perkebunan dan isinya, saudara yang lain berhak untuk mendapatkan sebidang tanah/rumah atau yang seharga dengannya.

Karena itulah, tuan Bharmal yang memiliki 3 putera dan seorang puteri, sangat berhati-hati dalam menentukan siapa calon pewaris perkebunan nanti. Karena mengurus tanah warisan itu butuh ketekunan dan ketulusan yang tinggi. Sebenarnya, pilihannya jatuh pada Jodha. Tapi karena Jodha anak perempuan, dia tidak punya hak waris terhadap tanah, tapi hak bagi hasil bersama kedua saudara lelakinya yang lain. Siapapun yang akan di pilih oleh ayah mereka untuk mengurus tanah perkebunan itu harus menerima keputusan itu secara aklamasi.  Karena menjadi ahli waris berarti memikul tanggung jawab besar.

NEXT

Bagikan :
Home
loading...