Kekasih Kelabu

Nyonya Gunawan Mohammad  sedang berbincang-bincang dengan seorang tamu ketika Friska Saraswati tiba di rumahnya. Dengan penuh kerinduan, Nyonya Gunawan menyambut Friska, menyuruhnya masuk dan memperkenalkannya pada tamunya..
“Friska, kenalkan..  nyonya Dinata, teman mama dari yayasan. Beliau adalah donatur terbesar kita. Berkat beliau kita bisa membangun gedung satu lagi untuk menampung aktivitas anak-anak di luar jam sekolah…”
“apa kabar nyonya?” Friska mengulurkan tangannya yang di sambut nyonya Dinata dengan tatapan tertarik. Tanyanya, “dia ini…”
“Putriku mbak yu. Putri semata wayangku. Friska Sarawasti..” sahut nyonya Gunawan.
Nyonya Dinata terbelalak tak percaya, “kau tak pernah bilang kalau punya putri secantik ini.”
Friska hanya tersenyum mendengar pujian itu. Nyonya Gunawan dengan bangga berkilah, “sampean tidak pernah bertanya…”
“lha bagaimana mau tanya… tidak pernah ketemu. Apakah kau sengaja menyembunyikan putrimu dariku, diajeng?” goda Nyonya Dinata.
Nyonya Gunawan tertawa geli, “ah mbak yu ada-ada aja. Mana bisa di sembunyikan? Sudah sebesar ini…”
Nyonya Dinata menatap Friska dengan tatapan ingin tahu, “kau sudah punya pacar, nduk?”
Friska tersenyum malu di tanya begitu, dia tidak menjawab, malah berpamitan, “saya permisi kedalam dulu..” Nyonya Gunawan menahan Friska dengan pertanyaan, “kau akan tinggal untuk makan malam?”
Friska terlihat berpikir dan menimbang. Nyonya Gunawan dengan nada penuh harap berkata, “tinggallah. Mama akan memasak makanan kesukaanmu…”  Melihat tatapan penuh harap dari mamanya, Friska akhirnya mengangguk, “baiklah. Saya permisi dulu..”
Nyonya Gunawan terlihat sumringah saat menatap punggung putrinya yang menghilang di balik tembok ruang dalam. Melihat itu, Nyonya Dinata segera menarik tangan Nyonya Gunawan agar duduk di sampingnya. Dengan nada penasaran Nyonya Dinata memberondong nyonya Gunawan dengan berbagai pertanyaan, “kenapa kau meminta dia tinggal untuk malan malam? Apakah dia tidak tinggal serumah denganmu? Apakah dia sudah punya pasangan? Maksudku pacar..kekasih..calon suami…”
Nyonya Gunawan tersenyum geli, “sabar mbak yu, tanyanya satu-satu…” Lalu Nyonya Gunawanpun mulai menjawab satu persatu pertanyaan Nyonya Dinata tentang Friska putrinya.
“Oh.. jadi dia punya rumah sendiri. Dengan siapa dia tinggal di sana?” tanya Nyonya Dinata.
“Dengan pengasuhnya sejak kecil, mbok Sumi.”
“Apakah dia belum ingin melepas masa lajangnya? Maksudku menikah?” pancing nyonya Dinata.
Tatapan nyonya Gunawan menerawang jauh, ada nada sedih saat menjawab pertanyaan tamunya, “sejak insiden itu… Friska tidak pernah terlihat akrab atau menjalin hubungan dengan pria lain. Dan kamipun, segan mau membicarakan hal itu dengannya. Sebenarnya…aku ingin segera menimang cucu, tapi bagaimana lagi…”
“aku punya solusi,” sela nyonya Dinata cepat. Dengan suara pelan setengah berbisik, nyonya Dinata memberitahu nyonya Gunawan solusi yang dia punya. Saat mendengar usulan nyonya Dinata, raut wajah Nyonya Gunawan berubah-ubah. Sekejab terlihat cemas, sebentar terlihat penuh harap. Dan nyonya Dinata terlihat begitu bersemangat membagi idenya.
“Bagaimana jeng?” tanya nyonya Dinata dengan tatapan ingin tahu.
“Saya setuju saja mbak yu. Tapi yang mau menjalani kan anak-anak. Apa tidak sebaiknya kita pertemukan mereka dan liat bagaimana reaksinya?”
“Ya.. itu ide cemerlang. Tapi sebelumnya, biar mereka tahu apa yang kita inginkan, ada baiknya diajeng memberitahu Friska tentang rencana ini. Dan aku akan memberitahu anakku. Bagaimana?” usul nyonya Dinata.
“Setuju. Malam nanti saya akan memberitahu Friska tentang rencana perjodohan ini. Semoga dia setuju. Setidaknya… setuju untuk bertemu…”

***

“Mama kuno! Sudah zaman internet… mana ada yang namanya di jodohkan ma?” protes Friska sambil menuang nasi ke piringnya.
“Rencananya memang ingin menjodohkan kalian. Ini usul mbak Erna, mama ya setuju aja. Dan lagi tidak ada salahnya bertemu Fris, siapa tahu kalian jodoh. Kalau pun tidak, ya tidak apa-apa. Setidaknya kami sudah mencoba.”
Tuan Gunawan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan ikut nimbrung, “bener kata mamamu, tidak ada salahnya bertemu. Kau percaya kan kalau jodoh di tangan tuhan? Jadi takut apa?”
“tapi….” Sahut Friska ragu.
“Tapi apa lagi? Dengar ya nak, mencari suami itu tidak semudah membeli barang di tokoh. Kapan kepingin asal ada uang bisa beli. Tidak! Tidak seperti itu. Jadi …”
Friska menatap papanya dengan lembut, “aku tahu apa yang papa maksudkan. Tapi saat ini, aku belum siap untuk menjalin sebuah hubungan, apalagi menikah..”
“kalau menunggu kesiapan pasti banyak tidak siapnya. Jalani aja….biar waktu yang bicara!” sahut tuan Gunawan yang membuat nyonya gunawan terperangah tak percaya.
“wah… papa romatis banget kata-katanya. Bikin mama tambah sayang ..” nyonya Gunawan berdiri menghampiri suaminya dan mencium keningnya dengan mesra. Tuan Gunawan balas memeluk nyonya Gunawan penuh kasih sayang.
Friska menatap kemesraan yang di tampilkan kedua orang tuanya dengan senyum penuh arti...  



Bagikan :
Home
loading...