Loading...
Loading...

Kekasih Kelabu bag 5

CR-V Friska telah tiba di depan pintu gerbang rumah mamanya. Dengan remote, dia membukan pintu gerbang, hanya membuka satu sisih pintu,  cukup untuk di lewati mamanya.  Nyonya Gunawan bersiap-siap untuk turun, “kau tidak masuk dulu?”
Friska menggeleng, “tidak. Sudah malam, banyak yang harus ku kerjakan.”
“lalu bagaimana dengan Tony Herlambang?” tanya nyonya Gunawan lagi.
“Akan ku pikirkan!” janji Friska.
“jangan lama-lama! Mama ingin mendengar jawabanmu besok.”
“Lusa. Akan kuberitahu lusa, oke?.”
“Apalagi sih yang harus di pikirkan?” protes nyonya Gunawan. “apa coba yang kurang dari Tony? Dia tampan, mandiri, ramah dan bersahaja. Tidak mudah lho mencari pria yang punya kriteria seperti dia.”
Friska tersenyum. Dia memeluk dan mencium pipi mamanya, sebelum membukakan pintu untuknya. Nyonya Gunawan dengan tatapan tidak puas, terpaksa keluar dari mobil Friska dan melangkah masuk ke halaman rumahnya. Begitu mamanya tiba di dalam, Friska segera menekan remote. Pintu gerbangpun menutup dengan sendirinya.  Tanpa membuang waktu, Friska segera membawa CR-V nya pulang kerumahnya sendiri yang jaraknya hanya sekitar 30 menit dari rumah mamanya.
***
Belum juga menutup pintu garasi, hpnya berdering.  Sebuah suara mungil menyapanya, “kakak, migrain kak Nelly kambuh lagi…”
Friska menyahut,  “tunggu ya, kakak segera kesana…”
Friska batal menutup pintu garasi. Dia naik kembali ke mobilnya dan segera melaju kencang
***
5 tahun yang lalu….
Sebentuk hati yang penuh cinta milik Friska Saraswati telah patah dan tidak pernah menyatu lagi. Ketika Afrizal Susanto, calon suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan 2 minggu sebelum akad nikah di langsungkan. Gedung telah di sewa, undangan telah di sebar. Dan pada hari H, tidak ada kemegahan sebuah pesta pernikahan, tapi suasana berkabung yang kelam.
Calon pengantin wanita sangat terpukul. Berbulan-bulan dia mengunci diri dan menjauh dari kehidupan sosial. Dia menjadi apatis dan takperduli pada lingkungan sekitar. Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter umum  di sebuah rumah sakit swasta ternama. Dan menutup klinik pribadinya.
Apa saja telah di usahakan oleh nyonya Gunawan. Tapi tak ada yang bisa mencairkan kebekuan hati Friska. Friska masih ada di dunia, tapi dia seperti hidup di alam lain. Tatapannya kosong tanpa ekspresi. Sehari-hari kerjanya hanya tidur dan melamun. Makanan dan minuman yang di hantarkan nyonya Gunawan ke kamarnya, hampir tidak tersentuh. Dia tak lagi memiliki keinginan hidup, tapi nyawa yang seutas seolah tak mau lepas dari raga.
Lalu, peristiwa naas itu terjadi…
Suatu pagi,  Friska sedang berdiri melamun di depan jendela kamarnya yang tepat mengarah ke pintu gerbang utama. Dia di kagetkan oleh suara benturan yang keras. Lalu sesosok tubuh mungil terlempar dan menghantam pintu gerbang. Friska shock melihat kejadian itu. Apalagi terdengar suara rintih kesakitan dari si empunya tubuh.
Hatinya tergerak. Dia berlari keluar dan menghampiri sosok yang terkapar di samping pintu gerbang. Sesosok bocah perempuan dengan kepala bersimbah darah membisikan satu kata di sela-sela erangannya, “kakak… tolong….! Sakit!” Lalu tak sadarkan diri. Darah terus mengalir dari pelipisnya yang robek.
Jalan di depan rumah Friska saat itu tidak seramai sekarang. Mungkin karena takut, mobil yang menabrak bocah perempuan itu melarikan diri. Untung melintas sebuah taksi. Friska segera membopong  tubuh kurus bocah itu dan menghentikan taksi, meminta diantar kerumah sakit.
Di rumah sakit, paramedis dan dokter jaga kaget melihat kehadiran Friska yang membopong sosok tak berdaya. Mereka segera bekerja bahu membahu untuk menyelamatkan nyawa bocah perempuan itu. Setelah hampir 6 jam pingsan, bocah itu pun sadarkan diri. Begitu sadarkan diri dia menyebut sebuah nama. Friska menduga, si bocah mencari keluarganya.
Dengan bantuan ayah Friska yang inspektur polisi, mereka berhasil membawa keluarga si bocah yang semata wayang kerumah sakit. Friska terguncang saat tahu kalau satu-satunya keluarga si bocah perempuan adalah  seorang balita.
Bocah lelaki berusia 4 tahun itu terlihat ketakutan di kelilingi oleh orang-orang tak di kenal. Jemarinya yang munggil mencengkeram ujung T-shirtnya yang kumal. Friska tak mampu lagi menahan perasaannya. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Nyonya Gunawan hingga pingsan.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dalam pingsannya. Yang jelas begitu tersadar, yang di tanyakan Friska adalah balita dan kakaknya, Nelly yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Dan semuanya kembali sedia kala.

Friska kembali menjadi Friska yang dulu. Sebagai ungkapan rasa syukur tak terkira, Nyonya Gunawan berniat mengadopsi kakak beradik itu. Tapi ketika niatnya di utarakan pada Friska, Friska Saraswati punya ide yang lebih besar dan mulia. Dia ingin mendirikan rumah penampungan untuk anak-anak seperti Nelly. Nyonya dan Tuan Gunawan, mendukung niat baik Friska itu..

Bagikan :
Home
loading...