Loading...
Loading...

Kekasih Kelabu bag 4

“Beritahu mama kalau kau menolak perjodohan kita.”
“Mengapa tak kau katakan sendiri padanya?” tanya Friska dengan tatapan menyelidik.
“Aku tidak bisa. Aku tak ingin mengecewakannya..” jawab Tony sambil menundukkan kepala.
Friska terhenyak, dia sama sekali tak menyangka kalau jawaban Tony seperti itu. Seorang pria tampan, gagah, modern dan mandiri punya rasa kasih yang begitu besar pada orang tua. Sungguh di luar perkiraan Friska. Dan ini membuat Friska berpikir.
Tony mengamati perubahan raut wajah Friska yang semula datar, menjadi bersemu merah. Dengan penuh harap dia bertanya, “bagaimana? Bisa kau lakukan itu?”
Friska baru saja hendak membuka mulut ketika Nyonya Dinata dan Nyonya Gonawan datang. Tony segera berdiri menyambutnya. Nyonya Dinata terlihat sangat gembira melihat Tony. Tony memberi salam pada kedua wanita itu dengan takzim. Semua gerak gerik Tony tak lepas dari pengamatan Friska.
“Apa kabar tante? Lama tidak berjumpa..!” sapa Tony pada mama Friska. Nyonya Gonawan tersenyum senang di sapa begitu ramah oleh calon menantunya.
“Kabarku baik, nak. Semoga kau juga selalu baik-baik saja,” balas nyonya Gunawan tak kalah ramahnya.
“Berkat doa anda….”
Nyonya Dinata menyentuh pundak Tony dengan lembut, “nak, apakah kau sudah bertemu dengan Friska? Friska… kenalkan ini putra tante, Tony..”
Friska yang berdiri di samping mamanya mengangguk, “ya tante, kami baru saja berbincang-bincang..”
“Oh ya? Apa yang kalian perbincangkan?” tanya nyonya Dinata antusias. Tony memeluk pinggang mamanya, lalu sambil tersenyum dia menyahut cepat, “perbincangan dua orang yang baru saja di pertemukan. Kami berkenalan dan saling bertanya kabar…”
Nyonya Dinata menatap Friska seolah ingin kebenaran darinya. Friska mengangguk sambil tersenyum. Wajah nyonya Dinata terlihat Sumringah, dia menatap Tony penuh harap, “lalu bagaimana?”
Tony tidak menyahut. Dia mengendikkan bahu, “terserah mama. Jika mama pikir baik untukku, aku menurut saja. Oh ya, kalau di izinkan, aku harus kembali ke kantor. Ada meeting dengan distributor malam ini.”
Nyonya Gunawan mengangguk, “pergilah nak, kami tidak ingin menyita waktumu …”
Tony mencium pipi nyonya Dinata  lalu meraih tangan nyonya Gunawan dan menciumnya dengan takzim. “Kalau begitu… aku pamit dulu. Selamat sore, tante,… Friska,” pamit Tony. Sebelum pergi dia menatap Friska dan berkata penuh harap, “tolong pertimbangkan apa yang kukatakan tadi.”
Friska tidak menyahut. Dia hanya tersenyum tipis. Tak dapat menunggu lebih lama untuk mendengar jawaban Friska, Tony bergegas pergi dengan penuh rasa percaya diri. Dia yakin Friska akan menolak perjodohan itu dan menyelesaikan masalahnya.  Dalam pandangannya, gadis secantik dan secerdas Friska tidak akan mau mengikat diri dalam perjodohan yang sudah jelas tidak punya masa depan. Apalagi  yang lebih melukai hati seorang wanita selain menikah dengan pria yang mencintai wanita lain? Mengingat kemungkinan yang tidak terbantahkan bahwa Friska pasti akan menolak perjodohan ini, Tony meninggalkan rumahnya dengan wajah berseri-seri. Satu masalah telah tuntas, tapi dia yakin mamanya tidak akan menyerah dan akan menemukan wanita lain untuk di jodohkan dengannya. Tapi Tony tidak perlu merasa khawatir. Dengan sedikit siasat, dia akan mampu membuat wanita-wanita itu menolak di jodohkan dengannya. Dia sudah sangat mahir dalam permainan ini. Sudah hampir 3 tahun dia selalu berhasil mengelak dari menikahi wanita-wanita yang di jodohkan dengannya. Dan entah sampai kapan dia harus  melakukan itu. Mungkin sampai ada salah satu dari wanita-wanita itu yang tidak punya hati dan bersedia menikah dengannya dengan sukarela meski tahu dia mencintai wanita lain. Tapi adakah wanita seperti itu di dunia ini?
Sepeninggal Tony, Nyonya Dinata, nyonya Gunawan dan Friska duduk di satu meja sambil menikmati teh dan sedikit camilan. Nyonya Dinata dan Nyonya Gunawan banyak bercerita. Sesekali mereka tertawa-tawa. Friska hanya mendengarkan saja sambil sesekali ikut tertawa. Mungkin dari luar, Friska terlihat biasa-biasa saja. Tapi dalam hatinya, sedang terjadi pergolakan hebat. Dia sedang memikirkan ucapan Tony, gerak-geriknya, sopan santunnya dan tata kramanya. Suatu perpaduan yang unik dan menarik. Hingga mamanya mengajak pulang, benak Friska tak lepas dari bayangan sosok seorang Tony Herlambang.

***

Dalam perjalanan pulang, dengan rasa ingin tahu Nyonya Gunawan bertanya tentang Tony pada Friska, “bagaimana Fris? Dia tipe pria idaman bukan?” Tanpa menoleh Friska mengangguk.
“Oh ya, bagaimana tanggapan Tony tentang pertemuan ini?” tanya Nyonya Gunawan lagi.
“Hmmm….sepertinya biasa-biasa aja. Dia tahu kalau mamanya sedang mengatur perjodohannya denganku..” jawab Friska sambil mengemudi.
“Lalu apa pendapatmu tentang perjodohan ini? Apakah kau setuju?”
Friska tidak langsung menjawab. Dia terdiam sebentar seperti berpikir. Lalu dia balik bertanya, “apakah menurut mama dia pria yang cocok untukku?”
Nyonya Gunawan mengangguk cepat, “tentu. Aku dan mbak Erna sangat berharap kalian setuju. Sebenarnya, mbak Erna sangat ingin menjadikan dirimu menantu saat pertama dia melihatmu. lalu ketika mama ceritakan tentang dirimu, dia semakin antusias dan merasa yakin dengan keputusannya. Dia merasa kau wanita yang tepat untuk anaknya..”
“dan mama merasa kalau Tony adalah pria yang tepat untukku?” sela Friska ambil melirik mamanya. Nyonya Gunawan mengangguk cepat. Friska tersenyum tipis, “kalau aku menolak Tony, apakah mama akan berhenti mencarikan calon suami untukku?”
Nyonya Gunawan menggeleng cepat, “tentu saja tidak! Mama akan tetap berusaha mencarikan pria yang mama rasa sesuai untukmu, kecuali kau sudah memiliki pilihan sendiri.”
“Hmmm.. mama memang pantang menyerah!” sindir Friska pelan.
“Oh tentu! Untuk putri mama tersayang, apa yang tidak bisa lakukan?”  ucap nyonya Gunawan sambil mengerling nakal kearah friska. Friska terkikik geli mendengar gaya bicara mamanya. Nyonya gunawan melanjutkan, “dan lagi..kalau mau jujur, mama sangat ingin memomong cucu. Hampir semua teman mama sudah punya cucu. Tapi mama belum. Mama kan iri…”
“Ma, kalau belum rezeki, walaupun Friska sudah menikah, belum tentu Friska bisa memberi mama seorang cucu. Rezeki, Jodoh, anak kan di tangan tuhan… kita hanya bisa merencanakan,” ucap Friska tanpa nada menggurui.
“Tapi setidaknya, kita sudah mencoba Friska. Dan kita punya kemungkinan.  Tapi kalau kau belum juga menikah, mama akan punya cucu dari mana?” tanya nyonya Gunawan dengan nada memelas.
“Kalau mama sangat ingin punya cucu, aku bisa mengadopsi salah satu anak yang ada di panti asuhan, dengan begitu mama akan punya cucu…”
Plokk! Sebuah tepukan kecil mendarat di paha Friska. Friska yang tidak menyangkah akan di pukul mamanya hanya bisa mengadu lirih. Nyonya Gunawan berkata sengit, “jangan coba-coba! Mama ingin cucu yang adalah darah daging mama. Kalau cucuk adopsi untuk apa? Mama punya banyak anak asuh di panti.”
“Nah kan? Kurang apalagi coba? Mama kan bisa menyibukkan diri di panti seperti biasa, tidak perlu di sibukkan oleh cucu..”
“Tidak mau! Pokoknya mama ingin cucu! Dan mama ingin kau menerima Tony Herlambang sebagai suami mu. Dengan cara itu setidaknya kau telah membuat mama bahagia.” Tandas nyonya Gunawan.
Friska geleng-geleng kepala mendengar perintah mamanya. Dengan suara lirih dia berguman, “Lagi-lagi alasan membahagiakan orang tua yang di jadikan senjata. Tidak mama, tidak juga tante Erna..”
Tapi sepertinya nyonya Gunawan tidak mendengar gumanan Friska, buktinya di atidak komentar, malah bertanya dengan penuh harap, “jadi bagaimana dengan Tony Herlambang? Kau setuju kan dijodohkan dengannya?”

Friska tidak menyahut.  

Bagikan :
Home
loading...