Loading...
Loading...

Kekasih Kelabu bag 3

Friska sedang beraktivitas di depan lappynya ketika Nyonya Gunawan datang. Tanpa beranjak, Friska memencet remote pintu pagar sehingga terbuka sendiri. Begitu pula pintu rumah. Nyonya Gunawan tanpa di persilahkan langsung masuk kedalam rumah di sambut mbok Sumi yang tergopoh-gopoh. Setengah berteriak nyonya Gunawan berkata, ~dengan sangaja agar di dengar Friska~
“Friska…semakin lama semakin lama semakin malas saja. Semua pintu pakai remote. Tamu datang di suruh masuk rumah sendiri. Bagaimana kalau yang datang orang yang….”
“Kalau yang datang orang yang tidak di inginkan, ya tidak akan di bukakan pintu dong ma..! Gitu aja kok repot!” sela Friska sambil melangkah menghampiri nyonya Gunawan dan memeluknya.
Nyonya Gunawan membalas pelukan putrinya sambil protes, “kau belum siap? Ampun Friska, apa saja yang kau lakukan? Nyonya Erna mengundang kita jam 5, sekarang sudah jam 4, belum lagi macetnya… jam berapa kita bisa sampai kesana?”
Friska menenangkan mamanya yang panik, “tenang, ma. Aku akan segera bersiap-siap. Tidak akan memakan waktu lama. Dan selama aku ganti pakaian, mama bisa kasih tau pak parman, kalau dia tidak perlu mengantar kita. Aku sendiri yang akan membawa mobil..”
“Memang kau tahu rumahnya?”
“Tau dong! Hanya ada satu rumah bernomor 44 di jalan Dinoyo…” sahut Friska sambil melangkah meninggalkan mamanya.
Sepeninggal Friska, nyonya Gunawan segera menemui sopir pribadinya, Parman dan memberitahu lelaki itu agar pulang saja, tidak perlu mengantar mereka. Belum juga Parman menyahut, Friska sudah keluar. Dengan setelan celana hitam dari bahan katun yang biasa di kenakan wanita eksekutif ke kantor dan atasan blouse lengan panjang berwarna ungu. Untuk aksesorisnya dia mengenakan ikat pinggang minimalis diatas blousenya dan sebuah tas tangan Hermes tergantung di pundaknya. Penampilan Friska begitu menawan dan elegan. Tapi di mata nyonya Gunawan penampilan itu masih kurang..
“make up mu tidak begitu kentara Fris, terlalu transparan.  Apa tidak sebaiknya kau memakai gaun?”
Friska tidak mengubris komentar mamanya, “kalau mama ingin aku ganti baju dan menebalkan makeup, pasti akan memakan waktu lama. Dan kita pasti akan terlambat tiba di sana. Sekarang pilihan ada di tangan mama…”
Nyonya Gunawan terlihat menimbang, “ya..ya tidak usah. Kau sudah terlihat anggun dengan pakaian itu… dan lagi ini hanya acara minum teh.”
Friska mengangguk setuju. Tanpa buang waktu lagi, Friska mengeluarkan Honda CR-Vnya dari dalam garasi. Nyonya gunawan segera duduk di sampingnya. Tak lama kemudian,  CR-V hitam mentalik itu sudah meluncur di jalan raya menuju ke kediaman nyonya Dinata di jalan Dinoyo.

***

Friska sedang asyik mengutak-atik Androidnya ketika Tony Herlambang mengheyakkan tubuh di kursi yang ada didepannya. Dengan suara setengah panik dia bertanya, “apakah aku terlambat? Semoga tidak. Mama pasti mengomeli aku setelah ini.”
Friska mengangkat wajahnya menatap Tony. Tony menuang teh di gelas yang masih bersih. Saat akan meneguk. Dia menyempatkan diri menawari Friska, “minum?” Friska tidak menyahut, hanya mengangguk mempersilahkan. Matanya tidak lepas dari wajah Tony. Dalam hati Friska berkata, “apakah dia yang akan dijodohkan denganku? Wajahnya lumayan juga. Gerik-geriknya luwes dan spontan…”
Tony balas menatap Friska dengan alis terangkat, “kau pasti…. Friska. Friska Saraswati. Mama telah bercerita sedikit tentangmu. Kau tahu kalau mereka sedang mengatur perjodohan kita?” Friska merespon pertanyaan Tony dengan endikan bahu.
“Well, aku secara pribadi tidak keberatan. Kapan lagi kita bisa membahagiakan orang tua kan? Tapi masalahnya… aku mencintai wanita lain. Kau pasti telah membaca berita di kolom gosip surat kabar daerah tentang ku. Ya… aku mencintai wanita itu. Ingin menikahinya. Tapi mama tidak setuju dan mengancam akan mengeluarkan aku dari daftar ahli waris papa kalau sampai aku tidak menuruti perintahnya. Seperti seorang ditaktor ya? Kadang mama memang seperti itu, tapi aku tahu….dia melakukan itu karena dia sangat menyayangi aku…”
Friska tidak bereaksi mendengar perkataan Tony. Wajahnya tetap tenang dan lurus memandang wajah Tony tanpa ekspresi. Tony jadi bingung sendiri, “jadi… menurutmu bagaimana?”
Lama Tony memandang Friska menunggu jawaban darinya. Mau tak mau Friska akhirnya bersuara, meski yang keluar dari bibirnya adalah pertanyaan juga, “maksudmu?”
“Ya..aku ingin membahagiakan mama. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu menderita karena menikah dengan pria yang tidak kau cintai dan tidak mencintaimu. Aku benar bukan? Aku tidak ingin menjadi egois. Kau cantik…menarik, sekali pandang pria akan jatuh cinta padamu..”
“Sayangnya kau tidak begitu..!”
“Tidak! Karena aku mencintai wanita lain. Apakah kau mencintai pria lain?” Tony sambil memicingkan mata menatap Friska. 
Melihat wajah datar Friska, Tony tidak butuh jawaban darinya, dia menjawab sendiri pertanyaannya, “tentu tidak. Kalau iya, kau pasti tidak akan datang memenuhi undangan mama. Tapi tidak apa, anggaplah kita memang tidak berjodoh, tapi kita masih bisa berteman. Dan aku dengan senang hati akan membantumu dalam apapun juga. Kau tinggal bilang saja, selama aku mampu aku pasti akan melakukannya…” 
“...dengan imbalan apa?” tanya Friska datar tanpa tekanan. 

Bagikan :
Home
loading...