Rasaku belum tentu Rasamu!


Khayalan menciptakan kenyataan...

Rasaku selalu saja yang ku utamakan. Jarang sekali aku memikirkan rasamu. Ketika aku duduk di bawa kemuning sambil menatap senja, yang kupikirkan hanya satu, "sampai kapan keindahan ini kunikmati..?"

Senja memang akan terus merekah sepanjang sore dengan indahnya meski tergantung cuaca. Tapi aku,..tidak ada yang tahu sampai kapan aku mendapat kesempatan untuk mengaguminya. Mawar  aneka warna yang bermekaran atau harum bunga kopi yang memabukkan. Pada akhirnnya semua akan ku tinggalkan.  Kau juga akan ku tinggalkan. Karena kalau tidak, kau yang akan meninggalkan aku..

"Apakah dengan sangat terpaksa?" begitu seringkali kau tanyakan. pasti dengan sangat terpaksa. Karena kalau boleh memilih aku ingin bersamamu selamanya. Tidak ada orang yang meninggalkan orang yang di cintainya dengan sukarela. Semua pasti karena terpaksa.

Setiap kematian adalah paksaan. Aku tidak pernah mendengar ada orang mati secara sukarela. Bahkan mereka yang mati bunuh diripun karena terpaksa. Terpaksa memilih kematian karena beban hidup yang tidak tertanggungkan. Mereka memilih mati daripada hidup menderita di dunia. Padahal tidak ada yang bisa menjamin kalau setelah mati, hidupnya akan damai dan sejahtera....

"apakah kau tidak memikirkan apa akibatnya bagi mereka yang kau tinggalkan?"
Aku selalu memikirkan. Karena itu aku coba untuk membagi doaku dan perlakuanku padamu.
Aku coba memperhatikanmu dan berusaha selalu mendoakanmu agar kau bisa hidup lebih lama dariku
Aku selalu memperlakukan mu secara apa adanya, agar kalau aku pergi nanti, kau tidak merasa kehilangan..

Karena di tinggal pergi  oleh orang terkasih adalah kesedihan abadi...

"Pernahkan kau memikirkan rasaku?"
Sering. Tapi aku tetap tidak mampu menebaknya. Aku menjadikan rasaku seolah itu rasamu 
Ketika aku merindu, aku menganggap kau sedang merinduiku... 
Ketika aku kesal, aku merasa kau juga ikut-ikutan kesal...
Ketika aku bersedih, aku merasa kau ikut bersedih bersamaku...
Ketika aku sakit, aku merasa kau mengkhawatirkan aku...
Apakah benar begitu?

Tidak bukan? Rasamu jauh dari jangkauanku. Terkadang aku menduga dan menebak-nebak apa yang kau rasakan. Jika benar, aku merasa senang... tapi jika salah, aku merasa hidupku tidak berharga...

Karena itu aku coba menahan diri...
karena rasaku belum tentu rasamu..
aku tidak ingin malu...
Bagikan :
Home
loading...