Puisi Cinta Yang Hilang bag 6 - Tamat

Puisi Cinta Yang Hilang bag 6.   .....dan aku ikhlas melepasnya. Karena itu yang terbaik untuknya. Toh pada akhirnya, semua akan berpulang keharibaan-Nya. Kalau Rio harus pergi terlebih dahulu, dengan kondisinya yang seperti ini, maka aku rela. Aku selalu ingin yang terbaik untuknya. Meski itu artinya...aku akan terluka. Akan selalu ada maaf untuknya.

Rio membalas genggaman tanganku dengan lemah. Perlahan matanya terbuka. Ada sebutir airmata menetes jatuh. Dia menatapku. Bibirnya mengerimit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi ada kalimat yang terucap. Seulas senyum tersungging di sana....  senyuman terakhir sebelum dia menutup mata. Kali ini untuk selamanya. 

 ***
Sejak kematian Rio, aku mersa tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang menganjal dalam hatiku. Ada begitu banyak rasa yang muncul. Rasa kehilangan, penyesalan dan rasa bersalah. Hanya saja aku tidak tahu yang mana yang lebih banyak porsinya. Terkadang tengah malam aku tersentak bangun secara tiba-tiba. Merasa sedih tanpa alasan yang pasti. Menitikan airmata tanpa ku tahu sebabnya. 

Terkadang aku harus pergi dari pembaringan diam-diam, agar isak tangisku tidak mengganggu tidur aldi. Aku tidak ingin membebaninya dengan perasaanku setelah semua yang dia lakukan untukku. Aku tidak ingin dia kecewa melihat istrinya menangis untuk pria lain di hadapannya. Tapi aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku merasa sedih dan putus asa. Menyesal dan di liputi rasa bersalah.

Bertahun-tahun aku memupuk kebencian pada Rio karena mencampakkan aku. Mengutuknya diam-diam karena dia tidak mau menemui aku.  Dia buruk di mataku. Pria yang dulu kucintai menjadi pecundang yang layak di hukum mati... Tapi kini, setelah aku tahu sebabnya, setelah aku tahu mengapa dia melakukan itu semua... aku merasa sangat bersalah. 

Aku tidak tahu mana yang lebih dulu. Dia sakit lalu mencampakan aku atau sakitnya parah karena aku selalu mengutuknya. Tuhan, andai aku bisa memutar waktu..... aku ingin menjadi manusia yang pemaaf. Yang merelakan segala duka dan menganggapnya sebagai hikmah.  Tapi semua sudah terlambat kini... Rio sudah tiada lagi.

***
Aku sedang membuat sarapan pagi. Ketika Aldi datang menghampiriku. Dia berdiri di sampingku, melihat aku mengocok semangkuk telur yang akan kujadikan omelet untuk bekal anak lelakiku ke sekolah. Aku tidak begitu mengubrisnya. Tapi saat aku mengangkat wajah, aku barus sadar kalau dia sedang memperhatikan aku. Aku balik menatapnya dan bertanya, "what?" Aldi tersenyum sambil terus menatapku. Aku sengaja menatapnya tajam, sambil menunggu apa kira-kira yang akan di katakannya. tapi karena di adiam saja, aku berniat pergi dari hadapannya.

Belum juga satu langkah, Aldi meraih pinggangku, "jangan pergi dulu. Ada yang ingin ku katakan padamu." Aku berbalik menghadapnya dan bertanya dengan ringan, "apa itu?"

Aldi meraih  jemari ku dan menggenggamnya dengan lembut. Satu tangannya yang bebas menyilakan tambut yang hatuh menutupi mataku. Lalu dengan lembut dia berkata, "Sella, aku tahu kau berduka. Aku memahaminya. Tapi aku tidak ingin wanita yang kucintai larut terus menerus dalam kesedihannya. Kau mungkin tidak ingin aku tahu..tapi aku sudahpun tahu. Aku tahu apa yang kau lakukan ketika kau terbangun malam-malam..."

Aku tersentak tak percaya, tak menggira kalau itu yang akan di katakannya. Aku tertunduk dengan rasa bersalah, "aku...."

Aldi mengangkat daguku, memaksaku menatap nya. Lalu dia berkata,  "aku tidak masalah. Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya. Aku tidak cemburu ataupun kecewa. Jika aku dalam posisimu, aku past juga akan melakukan hal yang sama. Tapi masalahnya... apa yang kau pikirkan, apa yang kau rasakan sekarang ini, bukan itu yang di inginkan Rio. Dia datang menemuimu sebelum dia pergi, karena dia tidak ingin kau merasakan perasaan ini. Dia tidak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang sudah terjadi. Dia sangat mencintaimu. Karena itu dia rela melepasmu ketika dia tahu dia tidak akan bisa hidup lama mendampingimu..."

Aku tak kuasa menahan air mata. Setitik dua tetesannya mengalir di pipiku. Aku denga sangsi bertanya padanya, "dariman kau tahu?"

Aldi menjawab, "Rio sendiri yang mengatakan itu. Kalau kau mau tahu.... Rio bahkan mengucapkan terima kasih padaku karena telah menjagamu....menyayangimu. Dia merasa kalau dirinya sendiri belum tentu akan sanggup mencintaimu sebesar rasa cintaku padamu. Dia memujiku Sella! Kau tahu itu? Dia memujiku! Setelah pengorbanan besar yang dia lakukan, dia merasa kalau orang lain masih lebih baik dari dirinya. Aku sangat kagum padanya. AKu merasa beruntung karena bisa mengenalnya.."  

Aku melihat mata Aldi berkaca-kaca. Akutahu dia sekuat tenaga menahan agar airmatanya tidak jatuh. Dia tak mau menatapnya. Dia menarik tubuhku dan memelukku. AKu mendengar isakan kecil di samping kepalaku. Aldi ku menangis. Untuk pertama kalinya aku mendengar suamiku menanggis. 

Setelahd ia berhasil menguasai perasaannya, Aldi menarik tubuhnya, menatapku dan berkata, "sekarang dengarkan. Kalau hari ini kau tidak punya banyak kerjaan, lakukan sesuatu untukku..."

"Apa itu?" tanyaku.

Kata Aldi, "bukalah bungkusan kado bersampul biru di atas meja kerjaku. Itu untukmu...! Jangan tanya dari siapa... kau akan tahu sendiri nanti. Ok?"

Aku mengangguk. Aldi tersenyum, "good girl! Sekarang buatkan Sarapan. Aku hampir kesiangan. Ada pertemuan yang harus kuhadiri.." 

Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda. Sementara dia pergi ke garasi.

***
Aku pergi ke kamar kerja Aldi. Memang ada bungkusan kado besampul biru di atas meja. Aku mengambilnya dan membolak-baloknya mencari tahu siapa pengirimnya. Tapi tak ada tulisan apa-apa. Dengan rasa ingin penasaran aku mengambil pisau surat dan membuka sampulnya. 

Sebuah buku diari dan secarik kertas berwarna merah hati yang hampir pudar. Aku membika lipatan kertas itu. Tulisan tangan yang rapi tergores di sana... aku membacanya... sebuah Puisi Cinta 

Ada Rindu di hatiku yang kedalamanya tidak akan dapat di ukur oleh jarak dan waktu
Jarak saat aku menjauh dari mu  dan waktu-waktu yang akan kujalani tanpamu

Aku sangat mencintaiku....
Meski aku tidak tahu seberapa besar rasa cintaku padamu...
Tapi aku tahu semua yang kulakukan ini hanya untukmu.

Ada saat ketika kita harus berdamai dengan kenyataan
menyerah sebelum di paksa untuk berperang
melepaskan apa yang kita miliki,
meski itu artinya kita akan mati 
sebelum maut itu sendiri menghampiri

Kekasih, kau akan selalu ada di hati 
Jika aku melepasmu pergi, 
Itu karena diri ini tak akan pernah sanggup melihatmu bersedih
kau segalanya bagiku..
Cintaku, kasihku semua hanya untukmu

Maafkan aku...
Kini kau harus berjalan sendiri tanpa aku..
tapi percayalah, di sisi dunia ini 
setidaknya ada satu orang yang akan sangat bahagia
jika melihatmu bahagia...

Sepanjang tarikan nafasku, 
tak akan ada yang lain dalam hidupku..
karena dalam hatiku hanya ada dirimu....

kekasihmu: Rio 

Aku melipat kertas itu kembali dan cepat-cepat membuka buku diari. Di sampul kertas bagian dalam terulis dengan hurup tegak yang rapi, "Diary of Rio Febriawan". 

Aku cepat-cepat menutupnya kembali. Ada getaran aneh saat mebaca judul itu. Rio menulis buku diari. Aku ingin tahu apa yang di tulisnya tapi aku tak berani membacanya. 

Dan puisi cinta yang baru kubaca itu.... itu adalah puisi sebenar yang ingin di kirimkan Rio padaku. Sebelum dia merombak sedikit di akhirnya dan membuat ku meradang marah.

"maafkan aku Rio!" gumanku sedih. Airmataku kembali menitik. 10 tahun aku bersamanya, tapi aku masih belum mampu memahaminya, "Tuhan...manusia seperti apakah diriku ini? Pria yang berkorban untukku... aku coba membencinya. Ampuni aku Tuhan!" 

Aku mengambil kertas merah hati itu, melipatnya dengan hati-hati lalu ku selipkan didalam buku diari. Aku mendekap buku diary di dada. Bertekad akan membacanya. Bukan sekarang... entah kapan. Setidaknya aku telah tahu apa yang tertulis dalam puisi cinta itu. Dan menyadari bahwa Rio ku, yang pernah kucintai sepenuh hati tidak pernah menghianati.

Puisi yang hilang itu telah tergantikan, tidak ada lagi kebencian... hanya sedikit rasa penyesalan.
Andai saja Rio tahu..... ada yang lain dalam hidupku, tapi tempatnya di hatiku tak akan pernah tergantikan. Aku memiliki banyak cinta... sebanyak yang diberikan Rio dan Aldi padaku. I Luv U... 
TAMAT

PREV

Bagikan :
Home
loading...