Ketika The Devil Lupa pakai Prada..

Ketika The Devil Lupa pakai Prada. Prada …. not Praha. What's the different? yang satu adalah produsen bahan sandang yang ternama sedang yang satu lagi adalah ibukota sebuah negara. Dan jika di tambah satu konsonan vocal di belakang kata terakhir maka terbentuklah kata Prahara yang artinya keributan besar. Seperti dalam Bianglala “The devil doesn’t wear Prada”..memang Devil tidak harus memakai Prada…dan bukan hanya tinggal di Praha tapi satu yang pasti..the Devil sangat suka mencentuskan Prahara.
Prahara dan bencana, satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kronologi kehidupan manusia. Dalam setiap sejarah, kemasyhuran, ketentraman dan kedamaian sebuah tamandun pada akhirnya akan hancur di telan Prahara. Tidak ada yang tidak.. sudah pasti. Pertanyaannya adalah.. Kenapa? Jawabnya hanya satu… “Karena manusia tidak mau belajar dari sejarah..”.

1294712817914094653Diajeng Surendeng yang old fashion, tidak pernah memakai Prada dan seorang narsikus sejati pernah mengatakan dalam salah satu diary onlinenya yang sekarang entah kemana…bahwa ..untuk meraih masadepan yang gemilang, seseorang harus belajar dari sejarah masa lalunya..” Memahami dan mengerti sejarah akan memberi kesempatan pada kita untuk menentukan masa depan. Dalam hidup ini, sering kali kita menentukan dan menuliskan tujuan… namun arah, strategi, dan usaha apa yang perlu di capai untuk meraih tujuan itu… selalu terlepas dari pandangan. Sebab itulah sejarah seringkali berulang.

Ambisi, hasrat dan keinginan untuk muncul sebagai yang ‘paling..’ seringkali membuat orang lupa diri dan hilang kendali. Hasrat untuk menjadi yang paling kaya, paling berkuasa, paling di puja sering membuat manusia melenceng dari tujuan yang diembannya. Kealpaan adalah sifat tapi kalau kita bisa menyingkapi maka sikap akan meluluhkan sifat.

Pembaca yang terhormat, its not the devil doesn’t wear prada, tapi terlupa saja. Karena dengan melepas Pradanya dan memakai kostum rakyat jelata dia lebih bisa merakyat dan berasimilisasi dengan kita. Memporak-porandakan tatanan sosial, menciptakan norma-norma baru yang menghancurkan pola pikir lama yang dianggap kuno dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Hingga munculah prahara kecil yang akan mengarah pada prahara besar…yang akan membuat si devil kembali memakai Pradanya dan berdiri di hadapan dengan bangga dan jumawa. Bila saat itu tiba, semboyan yang dahulu sering di gaungkannya pasti akan terlupa. Bukan lagi berdiri sama tinggi dan duduk sama renda.. tapi  “berdiri dan duduk tetaplah tinggian saya “. Lalu siapa kah Devil ini? Jawabnya ada dalam hati kita.

Suatu hari di tahun 2011

Bagikan :
Home
loading...