Bias ASA by Sally Diandra

Bias ASA by Sally Diandra. Siang itu disebuah kantor, di salah satu sudut ruangan, tampak Maya sedang melamun sambil memandangi handphone di atas meja kerjanya. Dimainkan dan diputar putar handphonenya ke atas ke bawah, ke kanan ke kiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyangga wajahnya yang berparas cantik diusianya yang menginjak kepala tiga. Ingatannya menerawang, teringat kembali akan pertemuannya dengan salah seorang teman SMAnya disebuah jejaring social via internet. “Kalo denger lagu Mr. Lonely, aku langsung ingat kamu,“ ujar Maya ketika ngobrol dengan Radith, teman masa SMAnya dulu via chatting di internet. “Aku juga, perasaan itu juga masih ada disini,“ jawab Radith. “Sama, perasaan itu terkadang juga muncul. Maaf, waktu itu aku belum bisa membalas perasaanmu,“ sahut Maya. “Never mind, aku ngerti kok gimana posisiku dulu, aku kan bukan siapa siapa dan belum punya apa apa, I’m Mr. Lonely,“ jawab Radith. “Tapi jujur, bukan karena itu aku melihatmu, mas,“ ujar Maya.

“Ah sudahlah, lupakan saja, yang penting sekarang, kamu tau ? Perasaan itu masih disini, May. Kalo kamu?,“ tanya Radith. “Kadang aku juga kangen sama kamu, sama masa remaja kita dulu tapi ketika aku sadar dan melihat anak anak, perasaan itu aku pendam,“ jawab Maya. “Kenapa nggak kita coba sekarang ? Itung itung untuk menebus kesalahan kita berdua dulu karena dulu kita belum sempet jadian, gimana ?,“ tanya Radith. “Maksud kamu, kita selingkuh ? Gila kamu ! Hubunganku dengan suamiku baik baik saja, anak anakku juga menyenangkan, gak ada yang salah dalam keluarga kami, aku nggak punya alasan untuk selingkuh, mas,“ ujar Maya. “Tapi kamu kangen kan sama aku ? Kamu juga memendam perasaan itu kan, May ? Kita bisa mendobrak semua itu dan menikmati apa yang seharusnya kita nikmati dari dulu, that’s right?,“ ujar Radith lagi.

bias asa Sally D“Aku nggak bisa egois, mas. Aku takut,“ sahut Maya. “Apa yang kamu takutkan, May ? Kita sudah sama sama dewasa sekarang, kita berhak mendapatkannya, aku yakin masih ada ruang yang kosong di hatimu, dan kamu masih menanti seseorang untuk mengisinya, iya kan?,“ tanya Radith. “Sudahlah, mas, forget it, itu cuma kenangan masa lalu kita, cuma cinta monyet belaka saja, nggak lebih !,“ jawab Maya. “Tapi aku ingin mewujudkannya, May. Bareng kamu, kamu sayang aku kan ?, tanya Radith. “Sudahlah, mas, nggak ada yang perlu kita bahas,“ sahut Maya. “Tapi please, tolong kamu pertimbangkan baik baik tawaranku ini, okey ?,” ujar Radith. Kata kata terakhir Radith bener bener membuat Maya berfikir, selingkuh ? apa iya sih aku harus selingkuh ? apa aku benar benar memerlukannya ? apa yang kurang dari suamiku yang bisa diberikan Radith untukku ? Rasanya semuanya oke oke saja, nggak ada yang salah, kenapa aku harus melakukannya ? Kembali otak Maya berfikir keras.

“May, ada gossip hangat lho ! Hot banget !,“ begitu ujar Karin, teman sekerjanya setibanya dikantor pagi itu. “Gosip apaaan ?,” tanya Maya penasaran. “Semalem, Dina dilabrak sama istri pak Alex dirumahnya. Kebetulan kan semalem aku dirumah Dina, tiba tiba aja istri pak Alex datang, dia langsung nyerocos nggak karuan sambil nuding nuding ke arah muka Dina, dia bilang kalo Dina itu cewek nggak tau diuntung, penghancur rumah tangga orang,  cewek kegatelan yang bisanya cuma ngrebut suami orang,“ Karin langsung nyerocos cerita semua kejadian yang dia liat semalem dirumah teman sekerjanya yang dilabrak oleh istri bosnya sendiri. Cerita Karin bener bener bikin Maya berpikir kembali, sebenarnya apa sih enaknya selingkuh ? Apa perasaan menentang atau keluar dari jalur adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi pelakunya, mungkin hal ini bisa jadi sebagai pembuktian diri bagi si pelaku tapi kalo akhirnya ketahuan seperti Dina ? berabe juga, yang pasti banyak hati yang merasa tersakiti akan hal ini dan lagi lagi perempuanlah yang jadi korbannya.

“May, Maya, Maya, wooi !,“ teriakan Karin langsung membuyarkan lamunan Maya. “Hehh, hhhh, apaan ?,“ tanya Maya gelagapan. “Kamu denger aku kan ? kamu denger cerita ku tadi kan ?,“ tanya Karin. “Iya, iya, aku denger Rin. Aku denger, pendengaranku masih baik. Trus Dina hari ini masuk nggak ya,?“ sahut Maya. “Tau deh ? Dari tadi juga belum keliatan, resign kali ? Eh tapi sampe jam segini pak Alex kok juga belum datang ya ? jangan jangan,“ ujar Karin. “Jangan jangan apa ?,“ tanya Maya sambil mengambil beberapa file yang harus dia kerjakan hari ini. “Iiih mau tau aja ,“ jawab Karin dengan nada centil. “Ya udah kalo gitu, sekarang kerja kerja kerja, let’s go work ! ntar istri pak Alex marah lho ! hahaha,“ canda Maya sambil mendorong badan Karin ke arah meja kerjanya. “Yeeee bisa aja kamu,“ sahut Karin sambil ngeloyor pergi ke meja kerjanya.    Sejenak Maya terbuai dengan beberapa pekerjaan yang benar benar menyita waktu dan energinya, yang membuatnya lupa akan tawaran Radith, teman SMA nya dulu. Saking sibuknya baik dikantor maupun dirumah, Maya jadi jarang bersentuhan dengan dunia cyber lagi. Kalo boleh jujur, sebenarnya memang ada keasyikkan tersendiri kalo sudah menjelajah dunia cyber, apa saja yang ingin kita ketahui ada disana, belum lagi kalo ketemu sama teman teman lama SMA dulu, kenangan masa lalupun terngiang kembali, tapi sekarang Maya bukan anak SMA lagi, ada dua pangeran kecil yang butuh perhatiannya, yaitu kedua anak laki lakinya.

“Kamu kemana aja, ? Beberapa hari ini kok kamu nggak chat ?“ tulis Radith dalam sebuah chatnya ketika Maya mulai masuk ke dunia cyber lagi. “Aku sibuk, lagi banyak kerjaan. Gimana kabar kamu ?,“ tanya Maya. “Baik, sehat, aku kangen sama kamu,“ jawab Radith. “Kangen ?,“ sahut Maya. “Aku sayang kamu, May. Aku pengin ketemu sama kamu, kamu bisa kan pulang ke sini, ?“ tanya Radith. “Pulang ? waduh maaf, aku nggak bisa dan lagi aku harus bilang apa sama suamiku, aku harus kasih alasan apa ke dia,?“ ujar Maya. “Gampang ! kamu bilang aja kalo ada reuni kecil – kecilan SMA, beres kan,?”  jawab Radith. “Enak aja kamu ngomong ! kamu aja yang ke sini, kan kamu yang kangen,“ sahut Maya. “Emang kamu nggak ? I Love You, May,“ ujar Radith. “Jujur kadang aku suka berimaginasi tentang kamu, tentang kita,“ papar Maya. “Oh yaa ? sama dong kalo gitu, aku juga sudah nggak tahan untuk meluk kamu, nyium kamu, satu hal yang belum sempet aku lakuin dulu,“ sahut Radith.

“Emang, itu yang mau kamu lakuin begitu ketemu aku, ? Just making love like that,?“ tanya Maya. “Yaaa, sebagian kecil sih itu, dulu kan kita masih malu malu, iya kan,?“ jawab Radith. “Tapi aku nggak pengin kayak gitu, mas, aku ingin kita saling ngobrol, saling memandang, nggak langsung seperti itu, rasanya gimana gitu,“ ujar Maya. “Aaah sudahlah, wait and see, gimana nanti kalo kita ketemu, okay,?“ sahut Radith. Gilaaaa ! Radith pengin langsung making love begitu ketemu nanti ? Maya kembali harus berfikir ulang, rasanya ada yang nggak beres dengan hubungan yang ditawarkan oleh Radith, apakah dia hanya sekedar pelepas nafsunya belaka karena kurang puas dengan istrinya ? Tapi anehnya ketika Maya menanyakan tentang hubungannya dengan sang istri, dia bilang istrinya oke oke aja malah apa yang Radith inginkan, istrinya selalu siap memberikan.

Lalu ada apa dengan tawaran ini ? Apakah cuma sekedar intermezzo belaka ?  hanya sebagai pengobat rindu akan kenangan masa silam ? Entahlah, cuma Radith yang tau dan anehnya saat ini Radith menghilang bagai ditelan bumi, Maya benar benar penasaran, jangankan sms, telfon aja nggak pernah diangkat. Ada apa ini ? Ada yang aneh ? Semakin Maya ingin melupakannya, bayangan Radith selalu melintas dalam benaknya bahkan rasa penasaran itu benar benar telah membuat Maya selalu memikirkan Radith. Mungkin memang ini yang diinginkan Radith ? Agar Maya merasa penasaran terus akan keberadaannya ? Entahlah …

“Bu, ada tamu,“ ucapan mbok Parmi benar benar membuat Maya kaget ketika lagi asyik membaca buku diteras belakang sore itu. “Siapa, mbok ? Laki laki apa perempuan, ?“ tanya Maya. “Laki laki, bu, katanya teman SMAnya ibu, namanya, pak … pak Adith, iya pak Radith, !“ jawab mbok Parmi. “Pak Radith, ???“ Maya langsung tersentak kaget begitu mbok Parmi menyebut nama Radith dirumahnya. “Orangnya ciri cirinya gimana ? tinggi kurus gendut trus sekarang dimana orangnya, ?“ tanya Maya merepet, mbok Parmi yang ditanyapun jadi bingung dengan sikap majikannya ini.

“Orangnya tinggi, cokelat, nggak kurus, nggak gendut, sedeng lalu pake kacamata, orangnya sudah saya suruh duduk di ruang tamu, bu,“ jawab mbok Parmi. “Oh ya udah kalo gitu, tolong bikinin teh anget yo, mbok. Aku tak ganti baju dulu, anak anak dimana, ?“ tanya Maya lagi. “Anak anak lagi main dirumah sebelah,“ sahut mbok Parmi. “Oh ya udah, udah buruan, mbok … bikinin minum yah,“ ujar Maya. Kedatangan Radith dirumahnya sore itu cukup membuat dada Maya berdebar debar cukup kencang, perasaan yang sering dialaminya ketika SMA dulu saat berduaan dengan Radith. Apalagi mas Bram, suaminya sore itu sedang lagi tidak ada dirumah, ada tugas luar kota yang harus dia selesaikan.

“Selamat sore,“ itulah kata pertama yang diucapkan Maya ketika bertemu Radith untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun nggak ketemu. “Sore, apa kabar, May ? kaget yaa ? kok aku bisa sampe ke istanamu ini, ?“ sahut Radith. “Iya, kok bisa, ? tau darimana, ? eh, ayo duduk, !“ ujar Maya kikuk. “Thank you, soal tau darimana, kamu nggak perlu tau, siapa dulu dong, Radith ! eh, suamimu mana, ?“ tanya Radith. “Dia lagi tugas ke luar kota, “jawab Maya. “Waaah pas dong ! kalo udah rejeki, memang nggak akan kemana, iya kan, May, ?“ ujar Radith. “Bisa aja kamu, mau apa kamu kesini, ?“ tanya Maya. “Kan aku udah bilang, aku kangen kamu Maya,“ sahut Radith. “Sinting kamu ! jangan ngomong yang gituan disini, mas, kalo ada yang denger, kan nggak enak jadinya,“ jawab Maya.

“Kalo gitu, ayok ikut aku, kita bisa pergi ke suatu tempat untuk melepas rindu, aku serius Maya, aku kangen sama kamu,“ ujar Radith. “Aku nggak bisa, mas, aku harus dirumah, jagain anak anak“ ujar Maya. “Lho ? kan ada pembantu kamu, kalo kamu kerja, anak anak sama dia kan ? so it’s not a big deal honey, c’mon, please … aku udah jauh jauh datang kesini cuma buat kamu, May, masa dicuekin gini aja sih ?“ tanya Radith. Radith terus menerus berusaha membujuk Maya untuk menuruti keinginannya, sampai akhirnya Maya pun akhirnya menyerah akan bujuk rayu Radith. “Oke, kita mau kemana ?“ tanya Maya. “Nah, gitu dong, that’s my girl, sore ini kamu harus menemani aku, kemanapun aku mau, deal ?“ ujar Radith.

Maya hanya mengangguk tanda setuju akan permintaan Radith. Dan sore itu Radith benar benar membuai Maya ke masa SMA nya dulu, mereka tak ubahnya seperti sepasang kekasih remaja yang sedang dimabuk asmara, mulai dari jalan jalan, nonton bioskop sampai makan malam. Dan ini tidak berlalu dalam sehari saja, selama beberapa hari Radith masih terus menggoda Maya untuk berduaan dengannya.

Sampai suatu malam ketika Maya sedang asyik berdandan untuk kencan dengan Radith lagi, tiba tiba saja mbok Parmi datang tergopoh gopoh ke kamar Maya. “Bu, ibu … adek, bu … adek” ujar mbok Parmi terbata bata sambil menata setiap tarikan nafasnya. “Ada apa sama adek, mbok ?” tanya Maya. “Badan adek panas, bu … demam, badannya lemes …” ujar mbok Parmi lagi. “Apa ????” teriak Maya, Maya segera berlari keluar kamarnya, dilihatnya anak bungsunya sedang tertidur diatas tempat tidur, diraba dahinya, panaaaas sekali, tanpa berfikir panjang Maya segera menyuruh mbok Parmi menyiapkan keperluan si kecil, Maya akan membawanya kerumah sakit.

“Mbok, cepat ambilkan jaket adek dan kaus kaki ya, adek biar saya bawa kerumah sakit, si mbok dirumah aja sama kakak, tolong tungguin kakak ya, mbok … nanti kalo ada apa apa saya kabari” begitu perintah Maya. Tak berapa lama setelah taxi yang dipesannya datang, digendongnya tubuh mungil itu dalam pelukannya, diciuminya berkali kali pipi anak bungsunya, rasanya Maya ingin mengatakan kalo mama ada disini sayang untuk kamu, mama akan selalu bersamamu, kamu harus kuat yaa sayang, harus sembuh … taxi pun segera membawa Maya dan sikecil menembus gelapnya malam menuju rumah sakit.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Maya sadar kalo selama ini dia sudah jauh dari kedua anaknya setelah kehadiran Radith, Radith benar benar mampu menyihir semuanya, daya magisnya sangatlah luar biasa, tapi Maya tak ingin kehilangan anak anaknya, tak digubrisnya telfon Radith yang berdering berkali kali memanggilnya, yang mungkin ingin mencari tahu keberadaannya saat ini. Biarlah semua tinggal kenangan, kenangan terindah yang pernah terukir didalam hidupnya, semua itu hanyalah sebuah bias asa yang semu yang hanya akan disimpannya dalam hati, kali ini hanyalah masa depan yang ingin diraihnya yaitu bersama anak anak dan suami tercinta.

- THE END -

Bagikan :
Home
loading...