Antara Maya dan Iva

Antara Maya dan Iva. Pandu namanya. Seorang insinyur muda dengan prestasi tinggi tapi idealis. Lulus kuliah dia meniti karier di perusahaan kenalan ayahnya, seorang bandar kapal ternama di kota pelabuhan Sunda Kepala. Karena pribadinya yangs angat baik,  menarik, simpatik, jujur, bertanggung jawab dan bisa di percaya,  Sang majikan, Tuan Sasongko berniat mengikat penuh jiwa Pandu selamanya dengan menjodohkan putrinya yang tinggal tinggal di luar negeri dengan Pandu. Setiap kali ada kesempatan, Tuan Sasongko selalu membicarakan rencananya itu pada pandu, tapi Pandu hanya senyum-senyum saja,  tak mau menanggapinya secara serius. Dia bahkan tak mau ambil pusing usulan perjodohan itu.  Dia tetap fokus pada pekerjaannya dan berpikir kalau usulan itu hanya guyonan sang majikan untuk mengisi pembicaraan.

Antara Maya dan IvaTapi dugaan Pandu meleset.  Pandu menjadi kalang kabut saat tuan Sasongko meminta kepastian darinya atas usulan perjodohan itu. Pandu tak tahu harus menjawab apa. Karena sang majikan telah membicarakan perihal perjodohan itu dengan ayah Pandu yang di setujui ayahnya dengan senang hati. Pandu benar-benar terjepit. Apalagi saat Tuan Sasongko memanggil pulang putrinya untuk melakukan pertunangan. Pandu benar-benar hilang akal.  Dia ingat dengan semua kebaikan Tuan Sasongko padanya. Tapi dia sama sekali tak ingin membalas kebaikan itu dengan menjadi menantunya.  Menikah adalah hal yang sangat penting dalam hidupnya. Dan menikah dengan orang yang tidak di kenalnya, dia sama sekali tidak rela. Seperti membeli kucing dalam karung saja. Dia ingin menikah dengan wanita yang di cintainya dan mencintai dirinya. karena itu menjelang pertunangan, Pandu mengambil keputusan yang kurang terpuji. Dia menghilang dari kediamannya menjalang malam pertunangan. Membuat Tuan pranoto dan semua anggota keluarga menjadi kelabakan. Tuan Sasongko yang tidak mengira Pandu akan berbuat seperti itu menjadi marah tapi tak tahu harus bagaimana. Masalah yang menghimpit tuan Sasongko menjadi berlipat ganda ketika putrinya, Maya Permata Sari juga kabur dari rumah karena merasa malu campur dongkol atas perbuatan Pandu. Apalagi setelah berita pertunangan yang batal itu tersebar di media massa.

3 bulan berlalu. Di sebuah pelabuhan diujung timur Pulau Jawa, Pandu mencoba menata kembali hidupnya. Dia bekerja keras untuk membiayai hidupnya dengan bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Sebuah pekerjaan yang sama sekali tidak menjanjikan, tetapi dapat menjadi tempat bersembunyi yang aman. Pandu bisa saja melamar kerja di perusahaan besar dengan modal ijasah dan kepandaiannya. Tapi dengan cara itu, kemungkinan Tuan Sasongko menemukan dirinya semakin besar pula. Dengan hidup secara anonim seperi ini, Pandu merasa lebih tenang.

Tapi masalah rupanya tak pernah meninggalkan Pandu. Baru saja menjalani hidup dengan tenang, masalahbaru datang menyapa. Kali ini melibatkan seorang putri pemilik perusahaan Surat Kabar, Pinky. Pinky bertemu Pandu saat di ajak pacarnya, Bram yang adalah preman pelabuhan berjalan-jalan di pelabuhan. Begitu melihat Pandu, Pinky langsung cinta. Di luar sepengetahuan Bram, Pinky sering menemui Pandu, walaupun hanya untuk sekedar menyapa dan berramah tamah. Pinky merasa nyaman berada di dekat Pandu. Tapi hal itu tak berjalan lama, sampai Bram mengetahui kalau Pinky sering menemui Pandu.

Suatu hari, saat Pinky menemui Pandu, Bram muncul. Bram sangat marah, "hi kuli, apa yang kau kerjakan di sini bersama pacarku?" Saat itu Pandu sedang kerja lembur di pelabuhan. Dia sudah sangat lelah setelah seharian bekerja. Di bentak begitu rupa, Pandu coba bersabar, "maaf, Bram. Aku tak tahu apa yang kau bicarakan. Kenapa tak kau tanyakan saja pada Pinky?" Bram tambah marah, "kau coba-coab ganggu pacarkuya?" Dengans antai pandu membalas, "jangan menduga yang tidak-tidak, kawan. Aku di sini untuk bekerja." Bram berteriak, "jangan mungkir ya!" Melihat Bram yang emosi, Pandu segera angkat kaki, tak mau meladeni Bram. Tapi sikap pandu itu malam membuat Bram tambah berang. Dengan gerak cepat, Bram melompat kearah pandu dan menarik bahunya. Begitu pandu menghadap Bram, Bram segera melayangkan bogem mentahnya. Pandu yang tidak menduga akan mendapat pukulan seperti itu terjerebab ke belakang. Dengan menahan sakit dan emosi yang naik ke ubun-ubun, pandu segera bangkit dan menerjang ke arah Bram. Perkelahianpun tak dapat di hindarkan. Pinky yang melihat kejadian itu tak bisa berbuat apa-apa, selain berteriak-teriak melerai.

Setelah puas baku hantam, Pandu coba menghentikan perkelahian itu dengan melangkah pergi. Tapi Bram yang belum puas menghajarnya. Pandu coba melawan, tapi Bram memangbukan tandingannya. Sampai akhirnya Pandu tersudut diburitan kapal.  Bram memunggut sepotong besi runcing dan melemparkannya ke arah Pandu. Pandu cepat berkelit. Besi runcing itu lewat begitu saja. Pandu selamat. Tapi kakinya tergelincir, Pandu hilang keseimbangan dan jatuh ke laut.... Antara Maya dan Iva bag 2

Bagikan :
Home
loading...