Antara Maya dan Iva bag 2

Antara Maya dan Iva bag 2.  Peristiwa perkelahian Bram dan Pandu di saksikan oleh para awak media yang kebetulan ada di tepi dermaga untuk meliput peresmian dermaga baru. Beberapa dari wartawan itu berhasil mengabadikan kejadian itu. Salah satunya adalah seorang wartawan dari sebuah media cetak beroplah besar, Iva Permata Sari. Iva mendapat kesempatan mengabadikan perkelahian antara Bram dan Pandu, dan bergegas kembali ke kantornya untuk menulis berita yang sesuai dengan gambar yang di dapatnya.

Iva sedang mengemudikan mobilnya di jalan raya ketika tiba-tiba seorang pria muncul dari tempat duduk belakang dengan tubuh basah kuyup dan penuh noda darah. Pria itu adalah pandu. Iva terkejut dan meminggirkan mobilnya. Dengan penasaran dia menoleh kebelakang mengamati pemuda yang menyusup di kursi penumpang mobilnya. Dengan susah payah Pandu berkata, "to..long ..lah aku, nona. Aku telah bertemu dengan ikan cucut saat berenang di laut. Dan tanpa sengaja masuk ke mobilmu..." Melihat Pandu yang kepayahan, iva jadi cemas, "darah di tubuhmu...?" pandu menyahut, "aku terluka... tolong antarkan aku pulang..." Pandu masih sempat menyebutkan alamat dan menunjukan kunci rumah yang terikat dengan rantai di ikat pinggang kulit yang di pakainya. Setelah itu dia jatuh pingsan. Iva jadi bingung sendiri. Tak tahu harus bagaimana. Tapi itu hanya sesaat saja. Sel-sel kelabu di otaknya segera mencari solusi dan akhirnya Iva memutuskan mengantarkan pandu kerumahnya.

Antara Maya dan IvaRumah Pandu terletak di pingiran Kota dengan lingkungan yang asri dan bersih. Di halaman rumahnya terdapat taman yang terawat rapi. Iva meminta bantuan beberpa orangyang kebetulan sedang nongkrong di poskampling untuk membantu mengangkat tubuh pandu yang pingsan dan membaringkannya di sofa. Dengan telaten Iva membersihkan luka pandu dan mengobatinya dengan peralatan P3k yang tersedia dengan lengkap di sana.  Cukup lama Pandu pingsan. Iva tak berani meninggalkannya, takut kalau terjadi apa-apa. Sambil menunggu Pandu siuman, Iva melihat-lihat seisi ruangan. Di tempat tinggal Pandu banyak benda-benda yang antik dan mempunyai nilai estetika tinggi yang sebagian besar berkaitan dengan dunia maritim. Ada lukisan kapal pesiar dan sebuah peta dunia yang menempel di dinding. Sedangkan di meja dan buffet terdapat miniatur kapal dan beberapa miniatur ikan dalam berbagai jenis. Iva meneliti miniatur-miniatur itu dari dekat. Dari hasil pengamatanya, Iva yakin kalau miniatur-miniatur itu di buat oleh seorang yang ahli di bidangnya. Karena buatanya sangat halus dan hampir menyerupai aslinya. Sedang asyik Iva menlihat-lihat koleksi yangada di rumah itu, Pandu siuman. Batuk-batuk Pandu menarik perhatian Iva. Iva seera melangkah mendekati Pandu dan menanyakan keadaannya. Pandu mengucapkan terima kasih atas bantuan dan perawatan yang di berikan Iva pada lukanya.  Pandu menanyakan nama Iva, yang di jawab iva dengan menyebutkan namanya. Tapi ketika Iva balas bertanya, Pandu menyembunyikan identitasnya dan mengenalkan diri sebagai Arif. Untuk mengusir rasa jengah, Pandu memuji nama Iva, "iva.. nama yang manis."

Iva tak terlalu mengubris pujian Pandu. Dia punya rasa penasaran sendiri. kata Iva, "kalau melihat logatmu, sepertinya kau bukan asli dari kota ini, saudara Arif..!" Pandu mengangguk, "ya. Aku berasal dari Jakarta. Keluargaku di sana. Di sini aku hanya merantau dan mengadu nasib saja." Iva menghampiri sebuah miniatur kapal dan membaca nama yang tertera di buritan kapal itu dengan seksama. Di sana tertara tulisan, "Pandu Dewanata, Sept 2006" Iva langsung bisa menduga kalau pembuat miniatur itu adalah seorang bernama Pandu Dewanata. Entah mengapa membaca nama itu menginggatkan Iva pada seseorang. Dengan rasa ingin tahu, Iva bertanya, "saudara Arief, nama siapakah yang tertera di sini?"  Sesaat Pandu terlihat kaget mendapat pertanyaan begitu. Tapi dengan cepat kemudian dia menjawab, "oh.. itu nama samaranku."

Iva menatap Pandu dengan tatapan penuh selidik, "aku pernah membaca sebuah berita tentang pertunangan seorang putri bandar kapal di Jakarta yang batal beberapa waktu lalu karena pria yang hendak di tunangkan kabur di malam pertunangannya. AKu ingat nama pemuda itu sama dengan nama samaran anda." Pandu terlihat gelagapan dan salah tingkah, tapi masih bisa berkelit, "ah.. itu hanya kebetulan saja." iva memincingkan mata dengan rasa curiga, "benarkah? Hmmm... sunggu sebuah kebetulan yang tidak terduga. Konon kabarnya karena pertunangan yang batal itu, si gadis juga kabur dari rumahnya karena merasa malu dan sampai saat ini belum ketauan kabarnya." Mendengar itu, Pandu terlihat prihatin dan merasa sedikit bersalah, tapi tidak berkomentar apa-apa. Setelah merasa kalau kondisi Pandu sudah membaik. Iva segera pamitan pulang.

Esok harinya,  sesampai di kantor, Iva segera pergi keruang arsip untuk mencari berita tentang pertunangan yang batal antara putri pemilik bandar kapal Maya Sasongko dan seorang insinyur perkapalan bernama Pandu Dewanata. Pada artikel itu juga terdapat foto Pandu yang terpampang dengan jelas. Melihat foto itu, Iva tersenyum karena dugaannya tentang Arif benar adanya. Dia adalah Pandu Dewanata. Dengan bersemangat, Iva segera mengarap berita tentang perkelahian maut antara Bram dan Pandu. Dari informannya, Iva tahu kalau perkelahian itu ternyata melibatkan Pinky Sumarto, putri pemilik surat kabar tempatnya bekerja Tuan Sumarto.  Demi keamanan dan kenyamanan, Iva terpaksa mengganti nama si gadis dengan inisialnya saja tanpa keterangan jelas yang akan membuat pembaca tahu siapa sosok PS sebenarnya.

gara-gara artikel itu, Pinky di panggil oleh Tuan SUmarti dan di marahi abis-abisan. Pinky dengan sedikit gugup mengelak dan memberi penjelasan yang masuk akal yang membuat kemarahan Tuan Sumarto perlahan-lahan reda. kata Pinky, "papi tak perlu khawatir, wartawan tidak menyaksikan langsung keberadaanku disana, karena aku segera meninggalkan tempat begitu melihat para wartawan muncul. Hingga tak mungkin ada yang bisa menghubungkan aku dengan kasus itu." Tuan Sumart segera menyodorkan surat kabarnya yang terbithari ini, "coba lihat ini, bacalah sendiri. Artikel ini adalah hasil liputan wartawanku. Aku yakin dia tahu siapa dirimu, karena itu dia menggunakan inisial untuk menunjukan keterlibatanmu." Dengan terkejut, Pinky mengambil surat kabar itu dan membacanya, "tapi di sini tidak di jelaskan siapa gadis PS yang di maksud. jadi papi tak perlu cemas." Tuan Sumarto dengan penasaran bertanya, "lalu bagaimana dengan Bram?" pinky menjawab, "dia telah kabur... entah kemana."

Tuan Sumarto menarik nafas lega. Namun begitu dia tetap tak melewatkan kesempatan untuk meleter pada putrinya, "kau benar-benar keterlaluan, bandel dan keras kepala. Tidak mau mendengarkan ucapan orang tua. Bukannya baik-baik menuntut ilmu, malah cari penyakit dengan bergaul dengan preman seperi Bram." Pinky hanya bisa menunduk tak mau berkomentar atau menjawab balik tuduhan ayahnya karena tak ingin menambah keruh suasana.

Setelah membuat artikel tentang perkelahian Pandu dengan Bram. Iva kembali membuat artikel tentang Pandu dengan judul yang kontroversial, "Pandu Dewanta yang kabur dari Jakarta Lolos dari Maut." Setelah artikel itu di ikuti artikel berikutnya yang berjudul, "Maya Sasongko menanti kembalinya pandu Dewanata". Kedua artikel itu dilengkapi dengan foto Pandu sehingga semua orang yang membacanya pasti akan mengenali nya jika berpapasan denganya.

Hari itu, Pandu sedang melakukan rutinitasnya di atas kapal, ketika salah seorang rekan kerja menghampirinya dan menunjukan surat kabar yang memuat artikel dan fotonya. Pandu membaca artikel itu dengan rasa ingin tahu. Dia menemukan nama Iva permata sari terpampang di akhir artikel. Pandu dengan dongkol meremas surat kabar itu, membuat temannya bertanya keheranan.

Di Jakarta, Resti fauzi, adik tuan Sasongko juga membaca artikel yang sama di mana terpampang foto Pandu. Ketika terbaca nama Iva Permata Sari, dia ingat  kalau nama mendiang  ibu kandung Maya, kakak iparnya juga adalah Iva Permata Sari. Resti mencurigai sesuatu..... Antara Maya dan Iva bag 3

Bagikan :
Home
loading...