Dalam Balutan TAKDIR Akdha

Dalam Balutan TAKDIR Akdha. Bisakan manusia memilih takdirnya sendiri? Bisa kan seseorang menentukan takdir yang lainnya? Bisakah rupa yang tidak cantik, tabiat yang buruk mencegah seseroang untuk jatuh cinta dan di cintai? Apakah kita di beri pilihan ketika akan di lahirkan ke dunia? Adakah malaikat yang datang pada kita dan bertanya:

ingin terlahir sebagai apa?
ingin jadi anak siapa?
ingin berwajah cantik atau buruk rupa?
ingin mencintai siapa?
ingin kaya atau miskin?
ingin beruntung atau sial sepanjang masa?

jodha akbar buku sinopsisAdakah malaikat yang datang untuk menanyakan itu pada anda? Smile klu pun ada, pasti anda lupa! Tapi sayangnya memang tidak ada. Tuhan tidak bertanya ketika dia menciptakan manusia.  Tuhan hanya memberi perintah, lalu terciptalah kita. Itu hukumnya! Hukum alam yang tidak kita mengerti. Hukum yang di buat Tuhan untuk umatnya.  Suka atau tidak suka, sesuai atau tidak sesuai, bahagia atau menderita kita di paksa menerima hukum itu. Bahkan sedaya upaya apapun anda mencoba menolak, tidak akan ada yang memperdulikan anda. Sekeras apapun anda memprotes Tuhan, karena memberikan TAKDIR yang tidak sesuai dengan harapan,  sekeras itu pula anda telah menihilkan kehidupan. Membuang banyak waktu untuk komplain hingga melupakan kewajiban. Karena di tangan Tuhan, Manusia tak lebih dari sebentuk BANGAU KERTAS. Sebanyak apapun lipatannya, tak akan mampu menolong diri dari bara api.

Lalu apa hubungan tulisan ini dengan TAKDIR AKDHA? None. Nihil. Tapi melihat fenomena di luar sana, betapa segala hal tentang Akdha membuat manusia 'kehilangan karakternya' dan bergelimang dosa, hati tergerak juga untuk menulis ulasannya. Ada yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk membicarakan Jodha AKbar. Merasa bahagia, ketika Jodha bahagia. Merana ketika Jodha kecewa dan menderita. Geram dan benci ketika Ruqaiya, Maham Anga, Benazir menyakiti Jodha dan membuatnya terpisah dari cinta senjatinya. Menyumpah serapa jika jalan cerita tidak sesuai dengan yang di inginkannya. Dan yang paling para, mencaci dan mencibir pada orang lain yang tidak sependapat dengannya. Untuk apa? Itukan hanya sebuah cerita. Orang bijak berkata,  "jangan campur adukan antara Khayalan dan Kenyataan, karena itu akan menyesatkan!"

So much about Jodha Akbar, isn't it? Ketika kritikan tidak bersifat membangun tapi membunuh karakter itu adalah kejahatan yang tidak termaafkan. Ketika hayalan di campur adukan dengan kenyataan, itu adalah bentuk lain dari 'ketidakseimbangan mental'. Karena Khayalan dan Kenyataan mempunyai dunianya sendiri, meski hanya di pisahkan oleh selaput kabut yang sangat tipis, tetap saja keduanya terpisah. Sadari  kenyataan, bahwa hukum alam tidak mengizinkan: "penonton ikut bermain dalam cerita yang di tontonnya, pembuat menjadi seperti apa yang di buatnya" Dan jika mereka melewati batasannya, mereka bukan lagi berperan sebagai Subjek, tapi akan menjadi Objek.

Jodha Akbar akan menjadi lambang cinta sejati, jika setelah mennontonnya anda semua bisa memahami apa arti cinta. Tapi Jodha akbar juga akan menjadi lambang kemerosotan Mental dan spiritual manusia, jika mereka yang menontonnya larut dalam emosi yang tak terkendali sehingga lupa pada kodratnya sebagai manusia yang berakal, sehat, dan berperasaan.

Akhir kata: "Seorang pemecah Batu tidak akan menjadi batu meski setiap hari dia berkecimpung dengan batu, tapi  penonton akan akan menjadi seperti yang di tontonnya ketika dia tidak bisa menguasai perasaan dan logikannya."

after Midnight 2014,

  JA LOVER

Bagikan :
Home
loading...