Sinopsis Roman Layar Terkembang | Sultan Takdir Alisyahbana

Sinopsis Roman Layar Terkembang karya Sultan Takdir Alisyahbana. Berkisah tentang sepasang saudara kakak-adik putri dari bekas Wedana banten, R Wiriaatmaja yaitu Tuti dan Maria. Keduanya sangat akrab dan selalu saling mendukung, meski mereka memiliki sifat dan pandangan berbeda tentang kehidupan. Tuti adalah seorang guru sekaligus aktivis dalam sebuah pergerakan wanita yang bernama ‘Putri Sedar’. Sedangkan Maria, adalah gadis yang periang, terbuka dan selalu menikmati hidup secara apa adanya. Maria lebih suka hidup bersenang-senang dari pada susah-susah mikirin urusan orang.

Pada suatu hari, Tuti dan Maria berjalan-jalan ke pasar ikan. Disana mereka bertemu dan berkenalan dengan seorang pemuda bernama Yusuf. Seorang mahasiswa sekolah tinggi yang sifatnya dalam memandang segala hal termasuk kehidupan hampir sama dengan Tuti. Namun, pada pertemuan pertama itu, Yusuf telah menetapkan hati untuk mencintai Maria yang sifatnya berbeda 180 derajat dari dirinya. Ternyata cinta Yusuf berbalas karena Maria pun menyukainya.

Melihat keakraban Maria dan Yusuf, Tuti sering teringat dengan kisah percintaannya dengan Hambali yang kandas. Karena Tuti lebih tertarik pada pergerakan organisasi ‘Putri Sedar’ yang di kutinya. Dalam pidatonya pada salah satu kongres ‘Putri Sedar’ Tuti mengatakan bahwa ia menghendaki agar wanita Indonesia bukanlah wanita yang berdiri dalam masyarakat sebagai hamba, tetapi sebagai manusia yang sejajar dengan kaum pria.

Karena cara pandang yang berbeda itulah, Tuti dan Maria pernah bertengkar hebat. Tuti menganggap sifat Maria yang terlalu mengharapkan Yusuf menyebabkan martabat wanitanya di rendahkan. Sedang Maria mengatakan kepada Tuti bahwa cinta Tuti bersifat perdagangan, baik buruknya selalu di timbang-timbang samapi yang sekecil-kecilnya. Karena itu Tuti selalu gagal dalam membina hubungan percintaan.

Setelah pertengkaran itu, Tuti sikapnya mulai tergoyahkan. Dia mulai ragu atas apa yang di yakininya selama ini. Perlahan tapi pasti sifatnya mulai melembut dan terlihat mulai menikmati hidup. Perasaanya mengatakan bahwa apa yang selama ini di pikirkan dan di ucapkan di kongres ternyata tidak terjadi dalam kehidupannya. Ia mulai merasa sepi dan sendiri. Dalam kondisi seperi itu dia bertemu guru muda bernama Soepomo. Mereka kemudian berpacaran. Tuti mencoba untuk belajar mencintai Soepomo. Namun hubungan mereka tidak bertahan lama. Setika sifat idealisnya muncul lagi, Tuti kembali merasa bahwa cintanya pada Soepomo hanyalah sebuah pelarian. Tepat pada saat itu Soepomo berniat untuk mengajak kawin Tuti. jadi dengan terpaksa, Tuti harus memilih antara kawin dengan Soepomo atau setia pada organisasi ‘Putri Secar’ nya.

Sementara itu, Maria yang telah lulus sekolah mulai bekerja di HIS Kramat. Tak lama setelah bekerja, Maria merasa kesehatannya menurun. Dia sering merasa cepat letih. Setelah di periksa Dokter, ternyata Maria menderita penyakit malaria dan TBC. Semakin hari sakitnya semakin parah. Akhirnya Maria harus di rawat di rumah sakit CBZ, Pacet. Sewaktu Maria di rawat, Tuti dan Yusuf sering berkunjung bersama. Dan hubungan keduanya menjadi akrab. Melihat itu sebelum meninggal Maria berpesan, agar kedua nya sudi melanjutkan hubungan ke jenjang yang perkawinan. Tuti dan Yusuf pun menurut. Keduanya kemudian menikah. Dan ternyata diantara keduanya sudah ada kesesuaian jiwa. The End.

Mengharukan bukan? Kadang memang apa yang di pikirkan dan di inginkan oleh hati itu tidak bisa berjalan beriringan. Untuk itu maka di butuhkan usaha agar apa yang diinginkan dan di pikirkan dapat berjalan seiring sejalan….. happy ending :)

Bagikan :
Home
loading...