Puisi Cinta Yang Hilang bag 4


Puisi Cinta Yang Hilang bag 4. Rio berniat berdiri menyambutku, tapi aku memberinya isyarat agar tetap duduk. Aku yang mendekainya. Duduk di sampingnya… tapi tidak berani menatapnya. Wajah itu… meski tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa ketampanan yang dulu di milikinya… tetapi semakin tirus dan pucat. Sungguh berbeda dengan keadaan beberapa hari lalu… saat dia menemuiku. Ketika aku dengan angkuhnya menyuruh dia pergi… oh… jahatnya aku…

Rio meraih jemariku dan mengenggamnya. Aku mengangkat wajah menatapnya. Hati ku begitu pedih dan sakit. Lelaki gagah yang dulu pernah kucintai sepenuh hati… kini terduduk rapuh di depanku. Tak kuat menahan sedih, aku menangis di pundaknya. Rio tidak berkata apa-apa. Tapi dari getaran di dadanya dan tarikan nafasnya, aku tahu dia menangis dalam diam. Setelah sekian lama, Rio mengelus kepalaku dan berbisik, “Sella… jangan begini. Kalau ada orang yang melihat… nanti kau di tuduh selingkuh denganku..”
Aku cepat menarik tubuhku menjauh dan menatapnya dengan tak percaya. Diantara begitu banyak kalimat yang bisa di ucapkannya.. aku tidak percaya dia memilih kalimat itu untuk menghiburku.
“What?”  tanyanya dengan ringan menanggapi tatapanku. “Aku sama sekali tidak menyangkah kau akan menemuiku.”
“Seberapa parah?” tanyaku tanpa basa-basi. Rio seperti terhenyak mendengarnya. Dia tertunduk, “Rio..?”
“Tidak terlalu parah. Jika rajin minum obat, aku bisa bertahan hingga beberapa hari kedapan,” jawabnya ringan. “Jangan membebani pikiranmu dengan keadaanku, Sella. Aku tidak ingin melihat orang-orang yang kucintai bersedih karena diriku.”
“Kau sudah membuat kami bersedih. Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari dulu waktu masih awal-awal? Pasti bisa di sembuhkan…”
“Entahlah… sejak pertama kali mengetahui kondisi ini, aku tidak melihat ada jalan penyembuhan. Aku menyangkah kematian akan segera datang. Tapi ternyata tuhan masih memberiku umur sangat panjang… sehingga bisa melihatmu bahagia bersama keluarga tercinta…” Rio meraih jemariku dan menatapku tepat di mata. “Sungguh Sella… aku senang melihatmu bahagia. Itu adalah masa depan yang kuimpikan untuk mu…”
'”Bukankah itu mimpi kita berdua?” ucapku lirih.
Rio tersenyum masam, “ya. Ketika aku punya kemampuan untuk menjalaninya. Tapi ketika aku tahu bahwa aku tidak akan mampu untuk membahagiakanmu… aku mulai memimpikan kebahagianmu. Hanya kebahagiaanmu. Maafkan aku… jika pernah membuatmu kecewa, merana dan menderita. Maafkan aku…”
“13 tahun yang lalu….”
“Tidak ada yang lain dalam hidupku…. karena di hatiku hanya ada dirimu..!” ucap Rio dengan pasti.
Tiba-tiba aku merasa muak, marah dan terpedaya. Reflek tanpa bisa kutahan kutampar pipi Rio, tidak terlalu keras tapi cukup untuk membuat pipi yang pucat itu memerah. Rio tidak membalas. Dia hanya menatapku dengan tatapan penuh sesal, “maafkan aku Sella..”
“… setelah apa yang terjadi?” airmata kembali berlinangan di mataku. Aku tidak tahu untuk apa. Aku hanya merasakan sakit yang sangat dalam di hatiku. Mengetahui kebenaran yang jauh dari dugaan…, “Maafkan? itu yang kau minta dariku?”
Rio mengangguk, “maafkan aku!”
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu!” uacapku sebelum beranjak meninggalkannya. Aku berlalu tanpa menoleh kebelakang lagi. Sapaan ibu Rio yang terheran-heran melihatku menangis tidak kuhiraukan. Yang terpikirkan adalah bagaimana bisa secepatnya menghilang dari tatapan Rio. Karena aku…. (bersambung Puisi Cinta yang Hilang bag 5)

                    PREV    NEXT
Bagikan :
Home
loading...