Puisi Cinta yang Hilang

Prolog Puisi Cinta yang Hilang

"Sayang..." panggil Aldi sambil membuka pintu. Aku merapatkan tubuhku di balik kelambu. Dengan dada berdetak tak menentu. Untuknya curtain yang kupasang untuk menutupi jedela tempatku bersembunyi cukup tebal dan berwarna pekat. Hingga dapat kupastikan kalau dia, lelaki itu tak akan dapat menemukan diriku. Aku bernafas lega ketika kudengar suara pintu tertutup dan langkah kaki menjauh. Lega karena berhasil menghindarinya dan tidak perlu menatap matanya dengan rasa bersalah.

Beberapa hari ini, hatiku sedang galau, risau dan penuh risiko. Sedikit saja aku tidak bisa menjaganya... maka akan tercetuslah perang dunia. Lelaki yang membuka pintu tadi adalah suamiku. Satu-satunya pria yang berhak atas diriku, hidupku, tubuhku namun tidak hatiku. Meski dia pernah menjadi suamiku, namun hatiku telah kuserahkan pada orang lain. Dan orang lain itu tiba-tiba muncul kembali didepanku beberapa hari yang lalu. Membuat hidupku menjadi tidak menentu. 

"Sayang...." kembali kudengar panggilannya dan suara pintu terbuka. Kali ini aku tidak bisa sembunyi kemana-mana karena posisiku yang persis di depan pintu. Dan diapun memergoki aku. "Akhirnya.. kutemukan juga dirimu!" ucapnya dengan nada jenaka. Seperti biasa, setiap kali pulang kerja dia akan memeluk ku, membelai rambutku dan mencium pipiku, "harum sekali. Sudah mandi ya? Kebetulan, ayo ikut aku. Ada kejutan untukmu!"

"Kejutan apa?" tanyaku sambil membuntuti langkahnya. Bukan karena aku ini penurut pada suami, tapi karena tuan betubuh kekar itu telah menyeret tanganku.  "Kalau kuberi tahu bukan kejutan namanya.." jawabnya sambil mengacak rambutku.

Selangkah sebelum menuruni tangga, kudengar sebuah suara kecil memanggilku, "mama!" Tania putri kecilku yang belum genap berusia 4 tahun telah berdiri didepan pintu kamar dengan tangan terentang keatas. "Mama, ikut!" pintanya sambil melangkah kearah ku. Kulepaskan tangan suamiku dan menyambut bidadari kecil itu dalam gendongan. Lengan mungilnya melingkari leherku. Sementara tangan suamiku merangkul pundakku. Bersama kami menuruni tangga. Sambil bercanda dan tertawa. Lalu tatapanku terpaku pada sesosok tubuh yang berdiri di tengah ruang tamu. Sosok yang bagai patung kayu dengan ukiran yang sempurna. Lengkap dengan rambut panjang sebahu, bibir yang tertarik keatas membentuk suatu senyuman dan tatapan mata yang hangat penuh kasih sayang.

Lalu terdengar suara yang merdu menggumankan namaku, "Anjani Prasetya..! Dia memanggil nama lengkapku dengan suara itu. Suara yang sekian lama selalu kurindu.
"Sayang... kau masih ingat dia kan?" tanya suamiku sambil menatapku dengan senyum penuh arti. Dia mengangguk padaku sebelum beralih pada lelaki yang berdiri di ruang tamu yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatku terpaku. "Jangan sakit hati Rio, kalau Sella ku sedikit lupa padamu. Biasalah.. seiring dengan bertambahnya usia...."

"Apa kabar Sella?" tanya Rio, sambil melangkah mendekat dan mengulurkan tanganya kearahku.
Dengan tersipu aku menyambut tanganya dan berusaha membalas sapaanya dengan wajar, "Baik. Kamu apa kabar Rio?"
"Seperti yang kau lihat. Sehat tidak kurang suatu apa." ucapnya sambil tertawa renyah. "Ini putri kalian? yang nomor berapa?"
"Yang paling kecil," jawab Aldi. "Kedua abangnya sedang berlibur kerumah eyangnya di Fazenda."
"Duduklah dulu Rio, aku akan membuatkan minuman untukmu." ucapku berbasa basi. "Kau masih suka minum kopi kental manis, kan?"
"Masih ingat ya?" tanyanya dengan senyum dikulum.

Aku tidak menyahut. Dengan masih mengendong Tania aku segera beranjak kedapur. Lumayan. Ada alasan untuk menenangkan diri sejenak. Detak jantungku sangat keras. Sampai-sampai aku takut kalau tiba-tiba katup jantungku jebol jika tidak segera tertolong. Kududukan Tania diatas meja.Tak kuperdulikan rengekan manjanya. Menetralisasikan detak jantung adalah prioritas utama. Kutuang air putih dan segera meminumnya. Kudekap dadaku erat-erat. Hingga perlahan namun pasti degup jantungku kembali normal.

"Sayang..." panggil Aldi. "Kau buatlah minuman dan temui Rio sebentar ya. Aku akan mengajak Tania jalan-jalan." Aku tidak tahu harus menjawab apa. Namun Aldi tanpa membuang waktu segera meraih Tania, mengendongnya dan beranjak pergi. Kudengar suara pamitnya pada Rio.

Suamiku ini gila atau apa? Bukannya dia tidak tahu siapa itu Rio. Berhari-hari ini aku mencoba untuk menghindarinya dan membuang segala kesempatan yang membuatku harus bertemu muka dengannya. Tapi suamiku malah membawanya ke rumah. Sanggat sulit untuk dipercaya.

"Sella, tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan bicara sebentar. Di sini saja boleh kan?" tanyanya sambil menghenyakan pantatnya di kursi meja makan. "Sudah lama sekali aku menanti kesempatan ini."
"Sudah basi," ucapku dalam hati.
"Kau terlihat sehat dan tetap menawan.Persis seperti apa yang selalu kubayangkan."
"Kau selalu membayangkan aku Rio?" sebuah pertanyaan ingin tahu terlepas begitu saja dari mulutku. Sungguh tidak tahu malu! Ingat posisimu, Sella!
"Setiap waktu!" ucapnya dengan nada sendu.
"Kenapa kau kemari Rio?" tanyaku sambil menyodorkan secangkir kopi kehadapannya. Rio menahan tanganku. "Untuk menemuimu!"
"Serius Rio!"
"Sangat Serius! apakah aku tidak boleh menemuimu?" tanyanya sambil tetap menahan tanganku yang kutarik paksa.
"Apa yang kau inginkan dari seorang istri dan ibu dari 3 orang anak?" selidik ku penuh rasa ingin tahu. "Kehadiranmu akan menyulitkan aku Rio. Kumohon pergilah!"
"Kau mengusirku? Aku bahkan belum meminum kopiku," protesnya.
"Minumlah... dan pergilah!" pintaku sambil menahan resah.
"Itukah yang kau inginkan? Baiklah...!" Rio meminum kopi panas di depannya dengan sekali teguk. "Aku harus mengatakan sesuatu padamu..."
Aku menggeleng melarangnya, "Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Kalau pun ada...simpan saja. Aku tidak mau mendengarnya."
Rio berdiri dari duduknya. Menatapku dengan nanar, tersenyum dan.., "Terimah kasih atas kopinya. Sedap sekali." lalu beranjak pergi.

Aku menatap kepergiannya dengan rasa bersalah karena tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan apa yang ingin dikatakannya. Bohong jika kukatakan aku tidak ingin mendengarnya. Aku ingin mendengarnya. Mendengar alasan kenapa dulu dia meninggalkanku begitu saja. Tapi aku takut. Takut kalau apa yang akan di katakannya tidak seperti apa yang kupikirkan. Aku tidak ingin terluka, kecewa dan merana... sekali lagi. Tidak! Tidak akan ku biarkan dia mengacaukan hidupkan lagi. Tidak akan!

'Sayang, kok..Rio sudah pulang?" tanya Aldi dengan heran.Aku menatap suamiku dengan tatapan curiga dan penuh selidik. "Kenapa menatapku begitu?"
"Abang yang mengundangnya kemari kan?" todong ku tanpa ragu.
"Bukan!"
"Lalu? Kenapa dia tiba-tiba kemari?"
"Dia yang menemuiku, memohon agar di izinkan untuk menemuimu. Ada sesuatu yang ingin di katakannya padamu. Penting katanya..!" jelas Aldi suamiku. "Apakah dia sudah mengatakannya?"
"Apa?" tanyaku tak mengerti maksudnya.
"Sesuatu yang penting itu. Apakah dia sudah mengatakannya?" tanyanya ingin tahu.
"Dia tidak mengatakan apapun. Mungkin dia rindu dan ingin melihatku saja," ucapku sekenanya. Tanpa memperdulikan tatapan suamiku yang seolah tidak percaya. Kuambil Tania dari gendongannya. Si kecil dengan senang hati meloncat kearahku. Membuatku tertawa geli melihat tingkahnya.  "Abang, malam ini kita makan di luar saja ya..aku sedang males masak."
"Terserah kau saja. Yang penting tidak tidur dengan perut kosong," katanya dengan senyum mengoda."Aku mandi dulu..."

Aku mengajak Tania ke ruang tamu dan bermain-main dengannya untuk menenangkan kegalauan hatiku. Pikiranku masih melayang pada Rio dan ucapan Aldi. Benarkah ada hal penting yang ingin dikatakannya padaku? Apakah itu? Duh... aku kok jadi penasaran begitu..... (bersambung)
***
Bagikan :
Home
loading...