Puisi Cinta yang Hilang bag 1

13 belas tahun yang lalu, aku mempunyai mimpi yang sangat indah dan seketul hati yang penuh cinta. Cinta yang penuh dengan angan-angan dan harapan yang tidak pernah padam berkat kasih sayang seorang Rio Febriawan. Rio yang sejak kecil telah menjadi karibku, selalu menjadi body guard ku, dan tidak pernah lelah memenuhi segala renggekan manjaku. Dahulu aku bukanlah seorang wanita yang mandiri dan berdedikasi seperti saat ini. Dulu aku adalah seorang gadis manja yang naif, selalu memandang sesuatu secara optimis. Dimataku, Cinta itu Indah dan hidup selalunya harus bahagia. Namun impian dan kenyataan tidak selamanya berjalan beriringan, bahkan lebih sering berseberangan jalan. Saling menjegal dan mengorbankan. Sama sekali tidak bersahabat. Sayangnya semua kesadaran itu baru kudapatkan ketika aku kehilangan seseorang yang sangat kucintai dan harus menikahi lelaki yang tidak aku cintai.

13 tahun yang lalu……..
Lulus kuliah dan menikah adalah dua target utama dalam hidupku. Melepas masa lajangku dan menjadi nyonya Rio Febriawan akan segera menjadi kenyataan. Seperti mendapat hadiah dan sekaligus menerima bonusnya. Setelah menikah, aku akan mengikuti Rio ke Singapura, dimana dia bekerja di sebuah perusahaan kontruksi besar yang berkantor pusat di negeri Singa itu sehingga tak perlulah kami merencanakan pergi ketempat lain untuk berbulan madu. Singapura akan menjadi tujuan utama dan pertama. Aku begitu bahagia dan benak ku di penuhi mimpi-mimpi indah. Sama sekali tidak terpikirkan akan hal-hal buruk yang bisa saja akan menimpa. Mungkin karena sudah menjadi sifatku yang selalu over confindent dan optimis sehingga tidak pernah membayangkan tentang hal-hal yang negatif. Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai meloncat suatu saat pasti akan terjatuh juga. Itulah yang terjadi padaku. 3 bulan sebelum hari pernikahan, Rio Febriawan telah memutuskan pertunangan. Tanpa alasan! juga tanpa penjelasan. Hanya selembar surat bersampul jingga dan sehelai puisi cinta. Aku lupa apa isinya, hanya ingat baris terakhirnya… “.. ada yang lain dalam hidupku, …. dalam hatiku hanya ada dirimu..”

Semula aku tidak percaya dengan kabar yang kuterima dari keluarganya bahwa Rio tidak akan datang di hari pernikahan. Dan meminta agar pertunangan di putuskan. Aku menganggapnya sebagai gurauan, maklum april mop sudah dekat.  Jadi aku menanggapinya biasa saja. Tidak percaya dan tidak mau mengubrisnya. Namun ketika sang ibunda dari si Rio Febriawan yang menemuiku dengan airmata berlinang, aku baru menyadari bahwa kabar itu bukan tipuan. Rio Febriawan benar-benar memutuskan pertunangan. “..ada yang lain dalam hidupku..” itu kalimat yang ada dalam puisinya. Ada yang lain dalam hidupnya…. dan yang lain itu pasti bukan diriku. Beraninya dia mencampakan aku demi ‘dia yang lain’.

Aku marah dan tidak terima. Sakit hati dan kecewa. 10 tahun dia ucapkan kata cinta untukku, hanya setahun berjauhan, semudah itu cintanya berpindah tangan. Lalu apa yang kudapatkan selama ini? Cinta palsu? Cinta semu? Aku ingin bertemu dengan Rio untuk meminta penjelasan. Namun keluarganya melarang. Tidak ada gunanya, kata mereka, karena Rio tidak akan kembali pulang. Lalu aku memutuskan, jika Rio tidak mau pulang, maka aku yang akan datang.

Aku terbang ke Singapura, hanya untuk meminta penjelasan darinya. Tapi Rio tidak mau menemuiku. Bahkan ketika aku membulatkan tekad untuk berdiri di depan kantornya yang megah di Toa Payoh, Rio tetap tidak tergerak untuk menghampiriku. Setelah seminggu berusaha, aku kembali ketanah air dengan tangan hampa. Marah dan kecewa, sakit hati dan putus asa. Ingin rasanya menyewa pembunuh bayaran untuk memenggal kepalanya dan menjadikannya umpan untuk ikan hiu yang menghuni kebun binatang. Agar semua orang bisa melihat bahwa hukuman setimpal bagi seorang pria yang mengingkari janjinya adalah mati dengan sengsara ditangan pembunuh bayaran dan ikan-ikan hiu yang kelaparan. Rasa marah dan kecewa amat sangat telah memompa adrenalinku hingga sel-sel kelabu di otak ku terbuka. Pikiran sehat menyapa, dan kesadaran bahwa tidak setiap impian menjadi kenyataan datang menjelma. Namun untuk mengakui bahwa diri telah dipecundangi, membuatku tidak dapat menerima fakta. Aku sangat sangat sangat mencintai Rio, ‘Tidak akan ada yang lain dalam hidupku, karena dalam hatiku hanya ada dirimu’. Itulah yang dulu dia janjikan pada ku. Namun jika kemudian syair itu berubah menjadi… ‘.. ada yang lain dalam hidupku…’ apalah dayaku?

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku ini adalah seseorang yang naif tapi optimis. Aku selalu bisa menemukan sisi positif dari hal yang negatif. Aku bukan tipe orang yang membiarkan diri menderita agar orang lain bisa bahagia. Bahkan dalam sedih dan sakit hati sama sekali tidak terpikir untuk bunuh diri. Yang ada dalam benak ku adalah bagaimana caranya meng- ‘undo’ apa yang sudah terjadi, mendeletenya dari memory dan menyusun kembali hidup ini. Itu saja. Aku tidak takut hidup menderita, hanya tidak ingin orang lain melihatku tidak bahagia. Tapi juga tidak mau pura-pura ceria dan riang gembira. Aku ingin hidup seperti apa adanya dan adanya apa.

Lalu aku berjumpa dengan Aldi Handoko. Orang kota yang datang ke Fazenda untuk menawarkan kerja sama. Abang ku Bayuangga Prasetya, yang menjabat sebagai CEO di perusahaan papa menerima tawarannya. Maka terciptalah kesepakatan antara mereka. Aldi Handoko sering datang ke Fazenda. Semula untuk urusan kerja, lalu makan malam bersama, lalu…… (bersambung)
Puisi Cinta yang Hilang 2

PREV     NEXT
Bagikan :
Home
loading...