All about Rani

Jika kalian bertanya apa padaku apa yang paling terkenal dari India, mwp_Janubaba_RaniMukherjeebycoolman_2005121344618PAML27[2]aka jawabannya ada tiga hal. Yang pertama Taj Mahal di Agra, yang kedua sungai Ganga, dan yang ketiga Rani Munkherjee. Kalian boleh protes, tapi inikan jawaban ku. Mungkin kalian punya jawaban lain itu sah-sah saja. Inikan negara demokrasi...lho...kok..apa hubungannya?

By the way... Rani Munkherjee lah yang selalu hadir menghiasi hari-hari ku sejak pertama kali aku melihatnya di film Raja Ki Ayegi Barat. Sejak itu, aku tak pernah absen menonton film-film Rani. Bagi ku menonton film Rani adalah suatu kewajiban. Meski aku tidak suka jalan ceritanya seperti pada Kahbi Alvidana kehna, tapi karena Rani yang berperan sebagai heroine pertama, aku sisihkan rasa ketidak sukaan itu dan tetap hadir di tayangan film perdananya.


Setiap kali melihat Rani aku selalu mendapat ilham baru  untuk cerpen-cerpen ku. Bisa di kata Rani adalah sumber inspirasiku. Senyumnya, tatapan matanya, gerakan tubuhnya, bahkan tangisnya dan cara cemberutnya pun selalu penuh  pesona. Tidak salah kalau peminat film Hindi pernah menobatkannya sebagai Queen of Bollywood.

Dan karena Queen of Bollywood itulahRaniM09[1] aku sekarang berada di sini, di India. Tepatnya di depan Apartemen Rani di Shakti apartements, Yari road, Versova, Mumbai.
Hampir tiga jam aku berdiri  di depan pintu gerbang apartemen Rani. Aku berdiri di bawah pohon rindang di depan pos satpam. Lelaki india yang menjadi satpam di tempat ini sangat ramah. Dari dialah aku tau jika Rani biasa pulang sebelum matahari terbenam. Dan saat ini matahari sudah tergelincir ke barat, tapi sedan Opel milik Rani yang kutunggu belum juga muncul. Aku hampir putus asa. Namun pak satpam yang ramah mengobarkan semangatku dan memintaku menunggu beberapa saat lagi.

Sedang asyiknya aku berbincang-bindang dengan pak satpam, tiba-tiba sebuah sedan Opel memasuki pintu gerbang dan berhenti didepan loby apartemen. Aku segera berlari mendekat. Kulihat Rani keluar dari sedan dengan anggunnya. Hatiku berdebar-debar tak karuan. Ku mempercepat langkahku dan menjejeri langkahnya.

"Hai...." sapaku. Rani menatapku sekilas, tanpa membuang kesempatan ku urai senyum termanis yang kupunya. Rani membalas senyuman ku dengan senyumnya yang dimataku.rani68[1] ...ohhhh  begitu manis sekali. Aku begitu gembira. Namun...oh tuhan...tiba-tiba dadaku terasa sakit. Kakiku begitu lemah untuk di gerakan. Badanku terasa lemas tak berdaya. Aku melangkah tergapai-gapai mencoba meraih pilar terdekat. Aku berdiri bersandar di pilar itu sambil menekan dadaku untuk menggurangi rasa sakitnya.

Ku lihat Rani telah melangkah memasuli lift. Namun ketika dia melihat ku tertunduk-tunduk menahan sakit di dada, dia tergopoh-gopoh keluar dari lift dan menghampiriku. Dia berbicara dengan ku dengan bahasa Indi yang tidak kumengerti. Namun setelah dia menyadari bahwa aku bukan orang Indi dia tersenyum  dan suara merdunya menyapaku kembali dalam bahasa ingris yang berlogat india.

"What happen to you , sir? Are you ok?" Rani memegang pundakku dengan jemarinya yang lentik. Suaranya yang serak-serak basah terdengar cemas.
"I'm fine," sahutku terbata-bata. Semula aku mengumpat  dalam hati karena harus berada dalam situasi seperti ini. Tapi melihat perhatian dan keramahannya aku menjadi bersyukur.
Rani membimbingku menuju tempat dudrani-mukherjee-88e[1]uk terdekat. "Ada mau ke lantai berapa?"
Sungguh tidak disangkah kalau bintang film  tenar sekaligus model seterkenal  Rani yang bergelar sebagai Queen of Bollywood, begitu peduli pada orang asing sepertiku. Apakah dia tidak curiga kalau misalnya aku ini orang jahat?
"Ya? Anda mengatakan sesuatu?" tanya Rani sambil menatapku dengan lembut.
"Terima kasih atas kebaikan anda."
Rani tersenyum. "Oh ya..anda mau ke lantai berapa?"
"Tiga puluh dua."
"Wah kebetulan sekali. Apartement no berapa?"
"307."
''???...." Rani menatapku dengan heran.
"Saya ingin menemui anda. Untuk menyampaikan ini...." Aku mengeluarkan kotak kecil persegi panjang kearah Rani. "Selamat Ulang tahun..."
Rani tergangah takjub. "Anda....??!!"

"Saya wp_Janubaba_RaniMukherjeebycoolman_20068314142041F3Z5[1] peminat anda dari Indonesia. Saya menyempatkan diri kemari karena ingin sekali bertemu dengan anda..." jelasku. Rani nampak ragu-ragu dan sedikit takut menerima kotak pemberianku. Aku maklum. Mungkin dia takut kalau kotak itu berisi bom. "Jangan takut...itu bukan bom."

Mendengar kata bom yang kuucapkan, Rani segera menghambur berdiri. Kotak pemberianku yang berada di tangannya di lontarkannya jauh-jauh. Kotak itu terbuka dan isinya berserak menyedihkan di lantai. Beberapa orang body guardnya berlari menghampiri. Aku tertunduk sedih. Kulihat orang-orang itu mengamati isi kotak ku dengan teliti.. Tak menemukan apa-apa yang mencurigakan, mereka membiarkan ku pergi. Merasa niat tulusku di curigai. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata dan dengan hati yang kecewa serta gundah aku berlalu dari tempat itu.. Dada ku masih sedikit sakit. Tapi aku paksakan juga untuk berjalan. Satpam baik hati yang menemaniku tadi menyapaku dengan ramah. Aku ucapkan selamat tinggal dan terima kasih padanya karena telah menemaniku seharian  tadi.
Alu berjalan tertatih-tatih. Namun belum jauh aku melangkah, sebuah suara yang sangat kukenal menyapaku dengan lembut,  " Dekho..mister...."

Aku menoleh. Rani berdiri di hadapanku dengan wajah penuh sesal. Aku menatapnya dengan sendu.
"I'm sorry. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan anda. Saya harap anda maklum...sekarang ini banyak sekali..."rani_mukherjee_wallpapers_6_1024_768[1]
"Jangan khawatir. Saya memahami perasaan anda. Saya orang asing....dan..."
"Bukan begitu!" Rani merasa serba salah. Lalu sesaat kemudian dia tersenyum cerah. "Dengar...anda sudah begitu baik menginggati ulang tahun saya. Dan sebagai rasa terima kasih saya..." Rani membuka tas rangannya dan mengeluarkan secarik kertas. "Ini undangan untuk pesta besok malam..."
Aku menerima secarik kertas yang disodorkan Rani kearahku. kertas itu ternyata sebuah amplop. Dan di dalamnya terdapat surat undangan.
"Kuharap anda bisa datang." ucapnya sambil tersenyum manis. Kemudian bidadariku itu berbalik dan melangkah pergi. Aku manatap kepergiannya dengan perasaan haru biru. Satpam temanku yang malihat adegan itu bertepuk tangan dan memberi tanda selamat. Aku membalasnya dengan gembira.

Sejak sore aku telah berdandan habis-habisan. Maklumlah pesta yang akan kukunjungi adalah pesta ulang tahun idolaku yang bintang film terkenal. pasti banyak bintang film bollywood yang akan hadir. Aku tidak ingin menimbulkan kesan yang aku ini bukan dari golongan mereka. Seperti kata orang tua-tua. Dimana bumi di pijak, disitu langit di junjung.

Dengan taksi aku tiba di hotel terbesar di Agra. Resepsionis yang menyambutku mengantarku ke tempat pesta di lantai tiga. Sampai disana ternyata pesta sudah di mulai. Aku berdiri di depan pintu masuk sambil mencari-cari sosok Rani.

Semua orang sstill3.sized[1]edang menari dan berdansa dengan di iringi musik dan lagu-lagu dari soundtrack film Rani.
"Hai..." tiba-tiba Rani telah berdiri didepanku dan mengulurkan tangan. "Mau berdansa?"

Dengan gugup aku meraih jemarinya. Rani membimbingku menuju lantai dansa. Seumur hidup baru kali ini aku berdansa. Lagu yang di putar adalah 'The Medley" soundtrack film Mujhe dosti karoge, lagu favoritku. Aku mencoba berdansa meniru gaya Hritrik Roshan. Tiba-tiba kakiku terkilir. Aku terjatuh, lalu semuanya menjadi gelap.

Ketika lampu menyala aku mendapati diriku tergeletak di lantai kamar bukan di lantai dansa. Rupanya aku baru terjatuh dari tempat tidur. Kulihat mama masih berdiri di pintu dengan tangan memegang saklar.
"Dev...ada apa? Mimpi lagi?" tanya beliau sebelum berlalu sambil menutup pintu.
Aku mengaruk kepalaku yang tidak gatal sambil tersenyum getir. Ternyata.....
Bagikan :
Home
loading...