Gencatan Rindu

“Sudah ah.. capek. Boleh tidak kalau kita simpan rindu ini…tak perlu mengungkapkannya… dan hanya dirasakan saja?” tanyaku padanya.
“Kamu lelah"?” tanyanya dengan lembut.
“He eh… lelah sekali. Lelah lahir batin. Aku akan selalu merindui mu… namun secara diam-diam. Boleh tidak?”
“Kamu Janji?” tanyanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Aku pun melakukan hal yang sama. Lalu jari kelingking kami saling bertaut mesra. “Tau tidak dear… rindu ini adalah kekuatan kita. Agar kita bisa saling mengingat… dan tidak saling melupakan.”
“Taupun…'! Apapun yang terjadi… aku akan selalu merinduimu. Aku janji!” ucapku menyakinkannya. “Dan lagi tiada yang bisa kucintai dan kurindui…serta kuinginkan amat sangat selain dirimu…”
“Meski aku ini jahat seperti nenek sihir yang laknat?”
“Yup! tapi kau bukan hanya jahat dan laknat tapi juga cantik, menarik, simpatik dan….. pernah baik padaku.!”
“Oh… jadi aku ini memang jahat dan laknat?” tanyanya menegaskan.
“Ehm…. sebenarnya bukan jahat dan laknat. tapi lebih cocok kalau di bilang kejam… dan tidak punya perasaan.”
“Apaaaa??? “ teriaknya seolah tidak percaya. Tangannya terulur siap untuk mengetuk kepalaku. Aku segara berkelit menghindar.
“Eit… kenapa marah? bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ini sangat kejam hingga aku tidak akan bisa membayangkan?”
“Aku? mengaku kalau kejam??”
“Yaaa… deee.. lupa dech!”
“Tidak ingat pun!” ucapnya sekenanya.
“Ah …bagamana kakak bisa ingat. Kaka kan sudah kena amnesia selektif. Lupa pada bagian2 indah masa lalu saat bersamaku.”
“Aku bukan lupa… tapi sengaja melupakan. Tau tidak dear… betapa aku berusaha keras untuk melupakannya dan meneruskan hidup ini tanpa menoleh kebelakang? kau telah merusak memory ku dan  mencoreng-coreng kepercayaanku….kenapa aku perlu mengingat semua itu?”
“Ah… kaka terlalu mendramatisir suasana!”
“Mendramatisir suasana? aku atau kau? Yang dengan segaja mengaduk-aduk kehidupanku… lebih senang membuat sengketa dari pada musyawarah… aku atau kau?”
“Kau…! Kau…. kau….karena kau.kauu..kauu…!”
“Baiklah kalau begitu…!”
“ishhh..ishhh.. marah nih yeee… aku kan cuma menyayikan lagunya Nicki astria.”
“Kau selalu saja tidak pernah serius!” katanya sedikit marah
Aku menatapnya dengan senyum dan kerlingan nakal seperti biasa, “Tau tidak kakak, resep hidup bahagia itu hanya ada. 1. good sense of humor, 2. short brain alias pelupa.” Dia diam tak menjawab. “Jika kita amempunyai kedua hal itu..maka alamat kita akan bisa hidup tanpa penyesalan dan kesedihan. ..”
“Benarkah?”
“Benar! Sebab itu meski aku berjanji akan selalu merindukanmu… bukan berarti aku tidak akan melupakanmu….!”
“Merinduiku tapi lupa padaku? bisakah???
(bersambung)
Bagikan :
Home
loading...