Menipu Hati

Hati tidak bisa di ajak Kompromi. Hati tidak bisa di rekayasa. Di tunjuk dan di perintah…. “Duhai hati… Bencilah dia! Sayangilah Dia!” Apa di kira Hati akan menurut dan menerima? Bahkan jika sejuta bukti yang nyata di lempar di depannya dengan berbagai ulasan dan kajian yang sangat menyakinkan, sebuah Hati akan menerima begitu saja? Bukti bisa di manipulasi. Akal bisa di bodohi, tapi nurani?

Hati adalah sumber kebenaran hakiki. Namun bukan berarti selalu benar dalam memilih. Ada masa hati mengikut logika… namun yang seringnya logika terbawa rasa jiwa. Begitu sukar menilai hati seseorang apalagi mengukur kedalamannya. Tapi menipunya begitu muda. Bentangkan cadar kasih sayang, maka hati akan luruh dalam dekapan.

Pikiran manusia itu dangkal dan terkadang sangat susah untuk di nalar. Kenapa berbuat baik harus ada alasan? di kalkulasi dan di hitung untung –rugi? Bukankah berbuat baik itu hakikat kehidupan dan sebuah kewajiban moral? Banyak orang bilang, setiap kejadian bisa di ambil pelajaran. Simpan baiknya, buang buruknya…dan yang paling populer adalah istilah.. Belajar dari Pengalaman.

Berapa banyak orang yang mengalami kejadian yang sama berkali-kali? Terjebak dalam situasi dan kondisi yang membuatnya berakhir dengan memberi nilai “Tragedi”. Tragedi… saudara-saudara! Siapa yang rela menjadi Pahlawan tragedi? Meski Bermahkota daun Salam dan namanya terkenang sepanjang Zaman? Not me!!

Selamanya…Menipu hati pasti akan berakhir dengan Tragedi, sakit hati dan hilang rasa percaya diri.
Bagikan :
Home
loading...