Karena rindu itu indah

..meski menyakitkan!

Selalu begitu jawabnya apabila kutanya kenapa dia masih berkeras untuk merinduinya. Merindui orang yang sama sekali tidak pantas untuk di rindukan. Orang yang telah menghapus mimpinya dengan kenangan palsu. Yang telah menipunya dengan tipuan cinta fatamorgana. Indah di dengar, di rasa... namun semua hanya palsu belaka.

"Dia tidak seburuk dugaanmu, Meysha," belanya. "Dia baik, pengertian dan selalu bertengang rasa. Aku yang salah karena telah menyakitinya dan menjadikannya seperti itu."

"JIka begitu kenapa dia membiarkan engkau menderita?" tanyaku ngeyel. "Kalau katamu dia baik dan perhatian kenapa dia mengacuhkanmu dan mebiarkan engkau merana dalam kerinduan tanpa sekalipun dia perduli? kenapa?"

"Karena mungkin.. dia sudah tak mau mengenalku lagi!" ucapnya sendu.

"Tau pun! Tapi kenapa kau masih memaksakan diri menyapanya, mengiriminya surat..kartu ucapan... email.. untuk apa?"

Dia menatapku penuh kesabaran. Dengan lembut dia meraih tanganku, "Meysha, inilah yang dinamakan cinta. Aku mencintainya tanpa mengharap timbal balik. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa dia selalu di hatiku. Bahwa aku selalu mengingatnya di setiap detik ku. Aku tidak ingin dia merasa aku telah melupakannya...."

"Bukan kau yang melupakannya, tapi dia yang telah melupakanmu!"

"Mungkin! Mungkin dia tidak mau membalas surat-surat ku, email ku, SMS ku... tapi aku tahu dia masih memikirkan aku!"

"Bagaimana pula?" tanyaku heran dan penasaran. Sungguh tidak masuk di akal kesimpulan yang baru saja di ungkapkannya. Di cuekin, diacuhkan, tidak disapa tapi masih merasa di pikirkan oleh nya. Logika yang bagaimana sebenarnya di miliki teman karibku ini.

"Mudah saja! Kamu tahu tidak kalau sebenarnya kita hanya terpikir pada orang yang memikirkan kita?"

Aku menggeleng, "tidak tahu!"

Dia tersenyum, "begini, hukum alam menyatakan, bahwa hati dan perasaan kita menyatu dengan pikiran, sedangkan hakikat kehidupan menyatu dengan akal. Alam akal bersifat mutlak. Kita tidak bisa menerima atau menolak sesuatu karena itu adalah kodrat.  Sementara alam akal sifatnya tidak tetap. Berubah-ubah dan penuh ketidak pastian. Karena apa yang kita pikirkan belum tentu dapat kita miliki. Alam akal hubungannya dengan pertalian darah... sedangkan alam pikiran merupakan pertalian bathin."

"Maksudnya?" tanyaku bingung sama sekali tidak paham akan apa yang dijabarkannya barusan.

"Memang dia bukan siapa-siapaku. Secara logika, kami seperti dua magnet yang berkutub sama. Saling tolak menolak. Namun ada sesuatu yang membuat aku terikat padanya. Ikatan yang sama sekali tidak kupahami dan tidak bisa kujelaskan keberadaanya. Karena ..."

"Ikatan bathin?" potongku. Dia tersenyum dan mengangguk. Akupun turut menganggukan kepala, 'bisa jadi, karena meski sudah 2 tahu tidak bertemu, tidak menyapa kau masih setia merindukannya. Kenapa ya??"

"...karena rindu itu indah!" sahutnya.

".....meski menyakitkan???"
Bagikan :
Home
loading...