1080 hari sebelum hari ini

Ibu….ada rindu di hatiku yang kedalamanya tidak dapat di ukur oleh jarak dan waktu. Waktu ketika engkau berlalu meninggalkanku dan jarak tempatmu kini berada. Jarak itu haynyalah selaput tipis yang membatasi alam nyata dan kota maya diatasnya. Jarak dan waktu itu bagi tiada arti…karena dikau selalu berada dalam ingatanku, dalam hatiku dan terasa dekat di sisiku.

Ibu… saat langit mulai temaram dan senja menjelang, ku ukir wajahmu di cakrawala. Kubayangkan engkau tersenyum dan merentang tangan menyambutku. Cahaya candik kala memancarkan pesonamu dan irama ombak seakan desah nafasmu.

Oh ibu…. senja menjelang malam selalu mengusik kerinduan ku padamu. Dimana selalu dikau senandungkan doa di telingaku dan kunyanyikan kidung pujian untuk-Nya atas namamu. Setiap kali kau akan menjelma dalam mimpiku, membawaku terbang ke langit hitam penuh bintang, menyapa rembulan dan berbaring diatas awan.

Dikau ceritakan padaku segala apa yang engkau tahu. Tentang sungai yang mengalir ke muara, tentang hujan yang mengisi pundi pundi air dalam tanah, tentang matahari yang selalu bersinar dan tetap akan bersinar meski awan menghalagi cahayanya.  Yang paling berharga adalah tentang hakikat kehidupan yang kau paparkan padaku dan kematian yang menjadi saudara kembarnya. Yang kemudian merenggutmu dari sisiku.

Fajar menjadi awal kegelisahanku. Karena saat menjelang, engkau kembali menghilang dari sisiku. Ketika ayam jantan berkokok aku terjatuh dari awan yang tinggi ke bawah dipanku. Oh..ibu… kau lupa mengantarku pulang, meninggalkanku di awan yang tanpa dirimu menjadi dingin beku dn transparant.
978 hari sebelum hari ini….
Bagikan :
Home
loading...